sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Laba BP Naik Dua Kali Lipat pada Kuartal I-2026 Berkat Lonjakan Harga Minyak

Economics editor Wahyu Dwi Anggoro
28/04/2026 15:23 WIB
Laba BP meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal I-2026, menyusul lonjakan harga minyak akibat perang di Iran.
Laba BP Naik Dua Kali Lipat pada Kuartal I-2026 Berkat Lonjakan Harga Minyak. (Foto: Inews Media Group)
Laba BP Naik Dua Kali Lipat pada Kuartal I-2026 Berkat Lonjakan Harga Minyak. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Laba BP meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal I-2026, menyusul lonjakan harga minyak akibat perang di Iran.

Dilansir dari BBC pada Selasa (28/4/2026), raksasa energi ini melaporkan laba sebesar USD3,2 miliar atau sekitar Rp55 triliun pada Januari-Maret.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dari perkiraan para analis, dan dua kali lipat lebih besar dibandingkan USD1,38 miliar yang dilaporkan pada periode yang sama setahun sebelumnya.

Hasil ini adalah yang pertama di bawah kepemimpinan kepala eksekutif baru Meg O'Neill, yang mengambil alih jabatan pada awal April ketika pendahulunya, Murray Auchincloss, meninggalkan jabatannya setelah kurang dari dua tahun menjabat.

Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang dimulai pada 28 Februari, telah menyebabkan lonjakan harga minyak.

Penyebab utamanya ialah lumpuhnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang biasanya dilintasi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.

Minyak mentah Brent, patokan global untuk harga minyak, saat ini diperdagangkan sekitar USD110 per barel, dibandingkan dengan sekitar USD73 sebelum perang.

"BP bekerja sama dengan pelanggan dan pemerintah untuk mengirimkan bahan bakar ke tempat yang dibutuhkan, membantu meminimalkan gangguan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat," kata CEO BP Meg O'Neill.

Laba dari divisi pelanggan dan produk perusahaan, yang mencakup unit perdagangan minyaknya, melonjak menjadi USD2,5 miliar dibandingkan dengan hanya USD103 juta setahun yang lalu.

Namun, BP mengatakan bahwa kinerja divisi hulu, yang termasuk aktivitas eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas  stagnan pada awal 2026. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement