Penyebab utamanya ialah lumpuhnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang biasanya dilintasi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.
Minyak mentah Brent, patokan global untuk harga minyak, saat ini diperdagangkan sekitar USD110 per barel, dibandingkan dengan sekitar USD73 sebelum perang.
"BP bekerja sama dengan pelanggan dan pemerintah untuk mengirimkan bahan bakar ke tempat yang dibutuhkan, membantu meminimalkan gangguan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat," kata CEO BP Meg O'Neill.
Laba dari divisi pelanggan dan produk perusahaan, yang mencakup unit perdagangan minyaknya, melonjak menjadi USD2,5 miliar dibandingkan dengan hanya USD103 juta setahun yang lalu.
Namun, BP mengatakan bahwa kinerja divisi hulu, yang termasuk aktivitas eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas stagnan pada awal 2026. (Wahyu Dwi Anggoro)