Armada pesawat global diperkirakan meningkat dari sekitar 28.000 unit pada 2025 menjadi 50.000 unit pada 2045. Pada saat yang sama, porsi pesawat generasi baru diproyeksikan naik dari 32 persen menjadi 92 persen dari total armada dunia.
China diperkirakan menyumbang 21 persen dari total pengiriman pesawat, disusul kawasan Eurasia 20 persen, Amerika Utara serta Asia Selatan dan Asia Tenggara masing-masing 19 persen, Timur Tengah dan Afrika 10 persen, Amerika Latin 6 persen, serta Oseania dan Asia Timur Laut 5 persen.
Proyeksi Boeing mencerminkan pasar yang terus pulih dari berbagai guncangan, tetapi masih dibatasi oleh kapasitas manufaktur dan rapuhnya rantai pasok. Selain itu, Boeing juga masih menghadapi keterlambatan sertifikasi pada sejumlah program penting, termasuk 737 MAX 7, 737 MAX 10, dan 777-9.
Hulst mengatakan prospek permintaan jangka panjang tetap didukung oleh pertumbuhan perdagangan, pariwisata, migrasi, dan ekspansi jaringan penerbangan maskapai.
“Alasan orang bepergian dan alasan barang terus dikirim tidak berubah,” ujarnya.
(NIA DEVIYANA)