Jika dilihat khusus untuk PMA, Jawa Barat menjadi tujuan utama dengan nilai sekitar USD 9,2 miliar (16,3 persen), disusul Sulawesi Tengah USD 7,4 miliar (13,2 persen), DKI Jakarta USD 6,0 miliar (10,6 persen), Maluku Utara USD 5,2 miliar (9,2 persen), dan Banten USD 3,6 miliar (6,3 persen). Dominasi wilayah Sulawesi dan Maluku pada PMA menunjukkan dampak langsung dari proyek-proyek smelter dan industri berbasis mineral.
Sementara untuk PMDN, DKI Jakarta menempati posisi pertama dengan nilai Rp175,3 triliun (17,0 persen), diikuti Jawa Barat Rp149,8 triliun (14,5 persen), Jawa Timur Rp101,8 triliun (9,9 persen), Banten Rp73,2 triliun (7,1 persen), dan Kalimantan Timur Rp70,9 triliun (6,9 persen). Kalimantan Timur tetap menjadi magnet investasi domestik seiring pembangunan kawasan industri dan pengembangan wilayah Ibu Kota Nusantara.
Dari sisi sektor usaha, realisasi investasi terbesar masih didominasi sektor manufaktur dan logistik. Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya menempati posisi pertama dengan nilai Rp262,0 triliun (13,6 persen).
Posisi kedua ditempati transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp211,0 triliun (10,9 persen), disusul pertambangan Rp199,6 triliun (10,3 persen), jasa lainnya Rp170,5 triliun (8,8 persen), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp140,4 triliun (7,3 persen).
Sementara sektor lainnya secara kumulatif menyumbang 53,2 persen dari total investasi.