AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26098.99
0.31%
+81.46
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17083.15
-0.09%
-16.06
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,155
Emas
816,110 / gram

Laris Manis di Jepang hingga AS, Menko Airlangga Berupaya Buka Pasar Baru Ekspor Batik RI

ECONOMICS
Rista Rama Dhany
Jum'at, 17 September 2021 08:03 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa diversifikasi batik mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Laris Manis di Jepang hingga AS, Menko Airlangga Berupaya Buka Pasar Baru Ekspor Batik RI (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa diversifikasi batik mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai ekspor batik pada Januari hingga Juli 2020 mencapai USD21,54 juta, sedangkan dalam periode Januari hingga Juni 2019 angka tersebut berada di posisi USD17,99 juta.

"Pertumbuhan nilai ekspor batik ini disebabkan oleh semakin banyaknya diversifikasi dari produk batik," kata Airlangga saat kunjungan ke pelaku usaha batik di Kota Pekalongan, seperti dikutip Jumat (17/9/2021).

Berdasarkan potensi itulah industri kerajinan dan batik didukung sebagai salah satu sektor yang dapat menjadi penopang agenda Pemulihan Ekonomi Nasional. Negara yang menjadi pasar utama batik Indonesia antara lain Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Melihat potensi yang sangat besar, Pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya membuka pasar-pasar baru pada skala global.

Upaya ini diyakini dapat membantu kembali meningkatkan kinerja industri batik nasional di tengah dampak pandemi sekaligus semakin memperkenalkan beragam batik khas Indonesia. "Batik yang diproduksi adalah batik tulis dan batik cap. Pemerintah berkomitmen bahwa batik ini selalu menjadi pakaian resmi seragam Pemerintah," tuturnya.

Dalam kunjungannya tersebut, Menko Airlangga mendengarkan aspirasi pemilik dan pengrajin batik serta mempraktekkan langsung cara membatik menggunakan alat tradisional canting. Berdasarkan keterangan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja setempat, UKM sektor usaha batik di Kota Pekalongan berjumlah 871 unit usaha dan selama pandemi Covid-19 tetap mampu bertahan dan cenderung mengalami peningkatan jumlah pelaku usaha.


Perada Batik Pekalongan merupakan salah satu contoh pelaku industri batik yang masih tetap bertahan di masa pandemi. Meskipun terdapat pengurangan jumlah pengrajin, usaha yang berdiri sejak tahun 2011 ini tetap berinovasi dan berproduksi untuk terus menggerakkan ekonomi daerah.

"Kita mengapresiasi seluruh stakeholders yang terlibat menggerakkan industri batik. Saya ucapkan selamat karena tetap mampu bertahan di masa pandemi, bahkan ekspornya naik," tutur Airlangga. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD