Dampak Konflik Timur Tengah
Bahan bakar merupakan pengeluaran terbesar kedua bagi maskapai penerbangan setelah tenaga kerja, biasanya menyumbang seperlima hingga seperempat dari biaya operasional. Beberapa maskapai penerbangan besar Asia dan Eropa telah menerapkan lindung nilai minyak, tetapi maskapai penerbangan AS sebagian besar telah menghentikan praktik tersebut selama dua dekade terakhir.
Harga minyak yang tinggi dan penutupan wilayah udara akibat perang membatasi kapasitas, mendorong harga tiket pesawat di beberapa rute melambung tinggi, dan memaksa sebagian orang untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan menjelang musim panas puncak.
Harga bahan bakar yang tinggi jugda dapat berdampak serius pada industri perjalanan global, dengan maskapai penerbangan yang sudah menghadapi wilayah udara yang sempit karena pilot mengubah rute untuk menghindari konflik di Timur Tengah dan kapasitas di rute populer sudah penuh.
Secara gabungan, Emirates, Qatar Airways, dan Etihad biasanya menerbangkan sekitar sepertiga penumpang dari Eropa ke Asia dan lebih dari setengah dari semua penumpang dari Eropa ke Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik terdekat, menurut Cirium.
HanaTour Service Korea Selatan mengatakan telah membatalkan tur kelompok yang mencakup penerbangan ke Timur Tengah, seperti perjalanan ke Dubai atau rencana perjalanan yang transit melalui Dubai dalam perjalanan ke Eropa, dan membebaskan biaya pembatalan untuk pelanggan yang terkena dampak. Semua tur terkait Timur Tengah untuk Maret ditangguhkan oleh maskapai tersebut.
Di Thailand, Kementerian Pariwisata memperkirakan bahwa jika konflik berlanjut lebih dari delapan minggu, negara tersebut akan kehilangan total 595.974 wisatawan dan 40,9 miliar baht (USD1,29 miliar) pendapatan pariwisata.
Adapun Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa perang dapat segera berakhir, membuat pasar bergejolak, dengan harga minyak turun menjadi sekitar USD90 per barel pada Selasa dari harga tertinggi USD119 pada Senin.
Beberapa saham maskapai penerbangan pun kembali pulih setelah pernyataan Trump tersebut. Sejumlah saham maskapai penerbangan di ASia menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, dengan Air New Zealand naik 2 persen setelah turun hampir 8 persen pada Senin.
Korean Air Lines naik 6 persen, setelah turun 8,6 persen sehari sebelumnya, sementara Qantas Airways Australia naik lebih dari 1 persen, sedikit pulih setelah turun 4,5 persen pada Senin. Japan Airlines naik lebih dari 2 persen.
(Febrina Ratna Iskana)