sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Menkeu AS Isyaratkan Perluas Intervensi Imbal Hasil Obligasi

Economics editor Wahyu Dwi Anggoro
22/08/2026 19:00 WIB
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengisyaratkan bahwa ia bisa memperluas program pembelian kembali obligasi pemerintah.
Menkeu AS Isyaratkan Perluas Intervensi Imbal Hasil Obligasi. (X/@secscottbessent)
Menkeu AS Isyaratkan Perluas Intervensi Imbal Hasil Obligasi. (X/@secscottbessent)

IDXChannel - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengisyaratkan bahwa ia bisa memperluas program pembelian kembali obligasi pemerintah.

Dilansir dari Yahoo Finance pada Sabtu (22/8/2026), program tersebut bertujuan untuk meredam lonjakan imbal hasil atau yield utang jangka panjang pemerintah AS.

"Kami secara rutin melakukan pembelian kembali, dan kami akan meningkatkan jumlah pembelian kembali, bisa lebih dari USD4 miliar per obligasi," kata Bessent dalam sebuah wawancara.

Awal pekan ini, Departemen Keuangan AS mengumumkan tindakan untuk menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, dengan menggandakan jumlah obligasi Treasury 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun yang dibeli kembali dari USD2 miliar menjadi USD4 miliar. 

Operasi ini akan dimulai pada 9 September dan berlaku hingga 4 November.

Pengumuman tersebut sempat menekan imbal hasil utang pemerintah jangka panjang AS, namun yield kembali naik tak lama kemudian.

"Kami memiliki banyak alat untuk mencapai tujuan tersebut" kata Bessent.

 "Kami percaya tingkat imbal hasil tidak mencerminkan kondisi fundamental. Kami akan mengatasi ini," katanya.

Para ahli Wall Street ragu bahwa Departemen Keuangan dapat menekan imbal hasil secara artifisial dalam jangka panjang.  Mereka juga mempertanyakan seberapa besar sumber daya yang  dimiliki pemerintah untuk melawan kenaikan, sementara faktor fundamental yang mengerek imbal hasil tetap ada.

Sejumlah faktor makroekonomi mendorong kenaikan imbal hasil: defisit fiskal yang melebar, inflasi yang melampaui target dua persen Federal Reserve (The Fed), dolar yang melemah, dan gelombang penerbitan obligasi korporasi oleh perusahaan teknologi untuk mendanai pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan perluasan pusat data. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement