Amran mengatakan, peningkatan produktivitas memberikan peluang peningkatan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan tambahan biaya budi daya. Dia menyebut tambahan biaya untuk benih, pupuk, dan kebutuhan budi daya akibat peningkatan populasi memang lebih tinggi sekitar Rp2 juta per hektare, tetapi menghasilkan pendapatan yang lebih besar.
“Lebih tinggi Rp2 juta, tetapi penghasilannya naik Rp30 juta, Rp35 juta. Jadi bertambah biaya Rp2 juta tetapi bertambah penghasilan Rp35 juta,” ujar Amran.
Dengan harga pembelian gabah pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram, kenaikan produksi dari sekitar 5 ton menjadi 10 ton per hektare , itu artinya penerimaan kotor petani dapat meningkat sekitar Rp32,5 juta per hektare.
Menurut Amran, angka tersebut menunjukkan bahwa tambahan biaya budi daya relatif kecil dibandingkan potensi tambahan penerimaan dari peningkatan produksi dengan metode ini.
Selain meningkatkan populasi tanaman, PM-AAS menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung. Benih ditanam langsung tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit.