sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mentan Siapkan Pompanisasi 1 Juta Hektare Demi Antisipasi Kekeringan 2026

Economics editor Tangguh Yudha
09/03/2026 11:54 WIB
Mentan memperluas program pompanisasi lahan pertanian hingga 1 juta hektare pada 2026 untuk antisipasi menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino.
Mentan Siapkan Pompanisasi 1 Juta Hektare Demi Antisipasi Kekeringan 2026. (Foto: iNews Media Group)
Mentan Siapkan Pompanisasi 1 Juta Hektare Demi Antisipasi Kekeringan 2026. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, memperluas program pompanisasi lahan pertanian hingga 1 juta hektare pada 2026 sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Program tersebut melanjutkan upaya pada tahun sebelumnya yang telah menjangkau sekitar 1,2 juta hektare lahan. Selain pompanisasi, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi saat musim kering.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga," katanya dalam keterangan resmi pada Senin (9/3/202).

Meskipun terdapat ancaman kekeringan, Amran menegaskan bahwa sektor pangan nasional dinilai cukup kuat menghadapi berbagai tantangan, termasuk dinamika geopolitik global maupun potensi El Nino. Menurutnya, produksi dan stok pangan nasional masih dalam kondisi aman.

"Kita juga tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Nino. Produksi kita kuat, stok kita aman,” ujarnya.

Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, produksi beras nasional berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi nasional yang mencapai sekitar 2,59 juta ton per bulan.

Sementara itu, total ketersediaan beras nasional saat ini tercatat mencapai 27,99 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok yang berada di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Amran, ketersediaan beras nasional diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Produksi kita tetap terjaga, bahkan dalam beberapa bulan bisa mencapai 5,7 juta ton, sehingga pasokan domestik sangat kuat,” kata dia.

Ia menambahkan, produksi beras bahkan berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang hingga mencapai 5,7 juta ton per bulan. Hal ini didukung oleh masuknya periode panen raya di berbagai daerah.

Menurutnya, stok beras pemerintah juga diproyeksikan terus meningkat dan berpotensi mencapai 5 juta ton dalam dua bulan ke depan seiring masuknya hasil panen tersebut.

Selain beras, pemerintah juga memastikan ketersediaan komoditas pangan lain seperti ayam dan telur berada dalam kondisi surplus. Di sisi lain, ketersediaan pupuk juga dipastikan aman dengan harga yang dilaporkan turun sekitar 20 persen.

“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam. Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” tuturnya.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement