sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Meski Melambat, Menperin Sebut Manufaktur RI Tangguh di Tengah Tekanan Global

Economics editor Tim IDXChannel
01/04/2026 12:57 WIB
Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia  dari S&P Global tercatat di posisi 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 di bulan sebelumnya.
Meski Melambat, Menperin Sebut Manufaktur RI Tangguh di Tengah Tekanan Global. Foto: iNews Media Group.
Meski Melambat, Menperin Sebut Manufaktur RI Tangguh di Tengah Tekanan Global. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat di posisi 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 di bulan sebelumnya. Meski demikian, sektor manufaktur RI tercatat masih ekspansif dengan berada di atas level 50.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut membuktikan industri nasional masih tangguh meski dihantam konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan lonjakan harga bahan baku global.

"Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air," ujar Agus dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Kinerja PMI Manufaktur Indonesia sepanjang kuartal I-2026 konsisten berada di zona ekspansi. Tercatat, indeks berada di level 52,6 pada Januari dan naik ke 53,8 pada Februari, sebelum akhirnya melambat ke posisi 50,1 pada Maret. Meski mengalami moderasi, aktivitas industri nasional dipastikan masih tetap tumbuh.

Dia menegaskan fundamental industri nasional tetap kokoh berkat sokongan permintaan domestik. Meski tekanan eksternal menguat, kekuatan pasar dalam negeri dinilai menjadi bantalan utama yang menjaga struktur industri tetap stabil dan mampu menahan gejolak pasar global.

Secara global, PMI Manufaktur Indonesia masih kompetitif meski tren perlambatan melanda banyak negara. Di ASEAN, Indonesia tetap di zona ekspansi pada level 50,1, bersaing dengan Thailand (54,1), Myanmar (51,5), Filipina (51,3), dan Malaysia (50,7).

Kondisi ini terjadi di tengah tekanan inflasi global dan gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut memicu lonjakan biaya energi serta bahan baku, yang turut menekan aktivitas manufaktur di berbagai kawasan secara merata.

“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” kata Agus.

Penurunan output dan pesanan baru menghantui sektor manufaktur pada Maret 2026 akibat gangguan pasokan serta lonjakan harga bahan baku. Tercatat, keterlambatan pengiriman bahan baku menjadi yang terparah sejak Oktober 2021, sementara inflasi biaya input menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Meski tekanan biaya memaksa produsen menaikkan harga jual, optimisme pelaku usaha tetap tinggi. Berdasarkan survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI), 73,7 persen responden menilai usaha mereka stabil, dengan tingkat optimisme menyentuh 71,8 persen untuk enam bulan ke depan.

"Kemenperin bergerak cepat dengan memperkuat struktur industri dan mengoptimalkan pasar domestik. Pemerintah fokus menjamin kelancaran logistik serta pasokan bahan baku guna memastikan manufaktur nasional tetap kompetitif di tengah tensi geopolitik global," kata dia.

Reporter: Sheqilla Sukma

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement