AALI
8900
ABBA
232
ABDA
6025
ABMM
4650
ACES
625
ACST
210
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
800
ADMF
8525
ADMG
168
ADRO
4050
AGAR
302
AGII
2520
AGRO
640
AGRO-R
0
AGRS
102
AHAP
109
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1605
AKRA
1400
AKSI
324
ALDO
705
ALKA
294
ALMI
380
ALTO
177
Market Watch
Last updated : 2022/09/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.91
-0.84%
-4.57
IHSG
7178.58
-0.56%
-40.32
LQ45
1025.63
-0.68%
-7.01
HSI
17933.27
-1.18%
-214.68
N225
0.00
-100%
-27313.13
NYSE
0.00
-100%
-14236.60
Kurs
HKD/IDR 1,912
USD/IDR 15,030
Emas
805,406 / gram

Meski Tak Sebesar Bulan Lalu, Inflasi AS Diproyeksi Bertambah 0,2 Persen

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Rabu, 10 Agustus 2022 14:58 WIB
Meski melambat, namun inflasi di AS diproyeksi tetap akan mengalami kenaikan hingga 0,2 persen.
Meski Tak Sebesar Bulan Lalu, Inflasi AS Diproyeksi Bertambah 0,2 Persen. (Foto: MNC Media)
Meski Tak Sebesar Bulan Lalu, Inflasi AS Diproyeksi Bertambah 0,2 Persen. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Meski harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan penurunan, namun pertumbuhan indeks harga konsumen (IHK) diperkirakan masih akan mengalami kenaikan walaupun cenderung melambat pada Juli 2022 lalu.

Dikutip dari Reuters, Rabu (10/8/2022), IHK diproyeksi akan naik sekitar 0,2 persen pada Juli, setelah sebelumnya bertambaj 1,3% di Juni. Perlambatan ini merupakan yang terbesar sejak 2005, diikuti dengan 20% penurunan harga BBM.

Sedangkan IHK inti diperkirakan bakal naik 0,5% pada Juli setelah bertambah 0,7% pada Juni, diperkirakan akan meningkat 6,1% dalam 12 bulan. Hal ini akan mengikuti kenaikan sebesar 5,9% dalam 12 bulan hingga Juni, menurut jajak pendapat Reuters.

Kendati demikian, tekanan inflasi masih akan tetap tinggi mengingat The Fed masih berencana akan menaikkan suku bunga terbesar pada September mendatang.

The Fed menilai perlambatan perumbuhan IHK saat ini diperlukan, sebelum nantinya terjadi kebijakan moneter agresif yang dilakukan untuk menekan inflasi yang semakin bergerak ke level tertinggi.

"Secara keseluruhan, perubahan harga konsumen dari tahun ke tahun jauh di atas target dan kemungkinan akan tetap cukup tinggi selama beberapa bulan mendatang untuk mempertahankan suku bunga tetap pada lintasan naik," kata Rubeela Farooqi, kepala ekonom AS di High Frequency Economics, dilansir dari Reuters pada Rabu (10/8/2022). 

Lonjakan harga konsumen AS ini terjadi karena sejumlah faktor seperti kekacauan rantai pasokan global, adanya stimulus pemerintah dalam penanganan Covid-19, dan terjadinya perang Rusia-Ukraina. 

Di sisi lain, tingkat inflasi biaya sewa masih menunjukkan persistensinya yakni biaya tempat tinggal mencakup sekitar 40% dari ukuran IHK inti. 

“Di antara bentuk inflasi yang paling persisten adalah inflasi sewa ... mengingat bahwa harga sewa spot membutuhkan waktu untuk menyaring stok unit yang disewa, kami memperkirakan inflasi sewa CPI sangat kuat bulan lalu," kata Michael Feroli, kepala ekonom AS di JP pada Reuters, Rabu (10/8/2022).

Pada pasar tenaga kerja AS masih berlangsung sangat ketat dan turut menaikkan upah tenaga kerja yang berkontribusi pada harga layanan yang lebih tinggi. The Fed mengkhawatirkan percepatan inflasi pada sektor jasa akan jauh lebih sulit untuk diurai. 

Meskipun lowongan pekerjaan di AS turun di level terendah pada bulan Juni kemarin, setidaknya masih ada dua pekerjaan lain bagi setiap orang yang menganggur. Terdapat 528.000 pekerjaan bulan lalu dan tingkat pengangguran tutun ke level terendah sebelum pandemi. 

Pasar keuangan saat ini mengharapkan bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan, dari yang terakhir ditetapkan sebesar 2,25% menjadi 2,50%, dengan tiga perempat poin persentase bulan depan.

The Fed telah menaikkan suku bunga setidaknya pada 225 basis poin sejak Maret meskipun ada kekhawatiran yang mengarahkan ancaman resesi. (TYO/RIBKA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD