Dia juga menyoroti portofolio investasi BUMN di sektor asuransi yang memiliki jarak (gap) antara investasi dan liabilitas hingga Rp4,5 triliun. Salah satu penyebabnya BUMN kerap berinvestasi di sektor riil, terutama properti yang meskipun memiliki horizon panjang, tapi tidak memiliki margin yang memadai untuk menutup kewajiban.
Oleh karena itu, Dony berharap kesalahan dalam menempatkan investasi seperti tidak berhati-hati dan kreativitas yang berlebihan dalam mengejar janji return yang tinggi, tidak terjadi lagi di masa depan. Ke depan, dia juga mengumumkan rencananya untuk memperkuat aturan pengelolaan investasi dan produk yang berdasarkan kepada analisis risiko yang tepat.
(Rahmat Fiansyah)