Dalam diskusi tersebut, pelaku industri menilai arah industri 2026 akan ditandai oleh tekanan efisiensi, perubahan perilaku pasar, serta meningkatnya pengaruh faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan perkembangan teknologi, khususnya AI. Transformasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai digitalisasi, melainkan penataan ulang strategi, operasional, dan tata kelola bisnis.
Dari sektor perbankan syariah, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Herbudhi S Tomo menilai industri perbankan syariah relatif stabil memasuki 2026, dengan tantangan utama pada penguatan fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi dan regulasi.
“Tantangan perbankan syariah bukan pada keberlanjutan industri, tetapi bagaimana memperkuat fundamental melalui tata kelola yang solid, inovasi produk yang relevan, serta pemanfaatan teknologi digital secara tepat,” ujarnya.
Sementara itu, dari sektor teknologi digital, CEO PT Cipta Teknologi International sekaligus perwakilan Indonesian Digital Association (IDA) Yogi Triharso menyebut percepatan adopsi AI dan dinamika regulasi akan semakin memengaruhi arah industri.