Namun, persoalannya adalah sektor luar negeri belum dijadikan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi. Kebijakan ekonomi, menurutnya, masih relatif terlalu berorientasi pada pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi dalam negeri.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengubah arah kebijakan dengan mendorong penetrasi pasar internasional melalui industri yang memiliki daya saing kuat, orientasi ekspor, serta pemanfaatan investasi dan rantai pasok global.
Didik menilai perubahan tersebut penting karena pasar domestik yang besar tidak dengan sendirinya cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. "Pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia," katanya.
Dia mencontohkan pengalaman Indonesia pada 1980-an ketika pemerintah mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor. Menurut Didik, strategi outward looking pada periode tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen selama dua dekade.
"Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade lalu," kata dia. (Febrina Ratna Iskana)