"Kami bersama Satgas Pangan pantau seluruh Indonesia. Jangan dibuat langka. Tidak ada langka. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," kata Amran.
Amran mengafirmasi soal capaian produksi beras Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional melalui laporan Rice Outlook May 2026 yang diterbitkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Dalam laporan tersebut, produksi beras global periode 2025-2026 diproyeksikan naik 1,5 juta ton menjadi total 542,8 juta ton.
Seturut itu, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan lonjakan produksi paling signifikan, mencapai lebih dari 30 juta ton per tahun, jauh melampaui Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.
Amran secara khusus memperingatkan para pelaku usaha agar tidak melakukan spekulasi harga. Ia menekankan bahwa surplus produksi saat ini telah mengubah peta kebijakan pangan, sehingga kenaikan harga tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk mendorong keran impor seperti pada periode sebelumnya saat stok Bulog masih minim.
"Jadi kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan. Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada," kata Amran.
Langkah pengawasan ini tidak hanya sebatas imbauan, karena Bapanas telah sepakat dengan jajaran Dirkrimsus di seluruh Indonesia untuk menindak tegas setiap oknum yang terbukti melakukan penyimpangan dalam tata kelola stok dari hulu hingga hilir.
"Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak," kata dia.