AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Pencipta Vaksin AstraZeneca Sebut Covid-19  akan Jadi Flu Biasa

ECONOMICS
Leonardus Kangsaputra
Sabtu, 25 September 2021 14:34 WIB
Pada akhirnya Covid-19 hanya akan menyebabkan flu biasa.
Virus Covid-19 (Ilustrasi)

IDXChannel - Profesor Dame Sarah Gilbert yang merupakan pencipta vaksin Oxford menegaskan bahwa Covid-19 tidak mungkin bermutasi menjadi varian yang jauh lebih mamatikan. Ia bahkan yakin pada akhirnya Covid-19 hanya akan menyebabkan flu biasa.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tidak banyak tempat bagi virus Covid-19 untuk menghindari kekebalan manusia. Meski demikian, Covid-19 masih tetap menjadi virus yang sangat menular. Perbedaanya virus Covid-19 cenderung menjadi kurang ganas saat beredar melalui populasi.

"Tidak ada alasan untuk berpikir akan memiliki versi Sars-CoV 2 yang lebih ganas. Justru virus penyebab Covid-19 pada akhirnya akan menjadi seperti virus corona yang beredar luas dan menyebabkan flu biasa," terang Prof. Dame Sarah, sebagaimana dilansir Daily Mail, Sabtu (25/9/2021).

Selain itu Prof. Dame Sarah mengatakan bahwa manusia sudah hidup dengan empat virus corona yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan. Dan pada akhirnya Sars-CoV 2 akan menjadi salah satunya virusnya.

"Ini hanya pertanyaan tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana. Serta tindakan apa yang harus kita ambil untuk mengelolanya sementara itu," tambah Prof. Dame Sarah.

Sebagaimana diketahui, wanita berusia 59 tahun tersebut memimpin tim di institut Jenner Universitas Oxford yang menciptakan vaksin Oxford-AstraZeneca Covid-19. Saat AstraZeneca menjadi vaksin yang paling banyak didistribusikan di dunia.

Dia juga mengatakan bahwa dirinya sedang berjuang untuk mendapatkan dana untuk membantu mencegah pandemi di masa depan. Menurutnya investasi mendesak diperlukan untuk mencegah penyakit menular lainnya menyebar ke seluruh dunia.

"Kami masih berusaha mengumpulkan dana untuk mengembangkan vaksin lain yang kami kerjakan sebelum pandemi. Baik terhadap penyakit yang telah menyebabkan wabah di masa lalu dan akan menyebabkan wabah di masa depan," tuntasnya. (NDA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD