"Kami juga dapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan menekan harga. Jadi, kita bisa bayangkan di tengah daya beli yang relatif tidak cukup kuat, tapi harga kemungkinan juga tidak bisa bertahan di angka sekarang. Jadi, menurut saya tantangan yang obvious, yang nyata, yang harus kita hadapi," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Finance Director PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) atau Alfamidi, Suantopo Po. Menurutnya, berbagai produk yang bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.
"Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin Dolar itu kan sudah Rp18 ribu ya. Tentu saja mungkin banyak produknya yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga," kata dia.
Suantopo mencontohkan sejumlah komoditas seperti susu, kacang hijau, dan kedelai yang masih bergantung pada pasokan impor. Kenaikan biaya bahan baku tersebut, kata dia, berpotensi memicu kenaikan harga produk jadi yang menggunakan bahan-bahan tersebut.
Dia menegaskan penyesuaian harga akan mengikuti kebijakan pemasok atau prinsipal. Jika produsen menaikkan harga akibat kenaikan biaya produksi, maka harga di tingkat ritel juga akan ikut disesuaikan.
"Pada prinsipnya, apabila dari prinsipal memang menaikkan harga, ya pasti otomatis kita akan menaikkan harga juga, kan. Kita adalah retailer. Jadi, enggak mungkin tidak ada kenaikan harga," katanya.
(Dhera Arizona)