Secara kumulatif, selisih antara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nasional juga mengalami peningkatan, dari 4,52 juta pada Januari–November 2024 menjadi 5,64 juta pada periode yang sama tahun 2025. Kondisi ini dipandang sebagai sinyal positif bagi penguatan neraca pariwisata dan devisa nasional, sekaligus mencerminkan meningkatnya daya tarik Indonesia sebagai destinasi tujuan wisata.
Di sisi lain, pergerakan wisatawan nusantara tetap menjadi tulang punggung pariwisata nasional. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa sepanjang Januari hingga November 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,09 miliar perjalanan. Angka tersebut telah melampaui target perjalanan wisatawan nusantara 2025 sebesar 1,08 miliar.
Capaian ini, menurut Ni Luh Puspa, menegaskan peran strategis wisatawan nusantara dalam menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional, terutama di tengah dinamika dan ketidakpastian global.
Meski demikian, ia menyoroti tantangan pemerataan destinasi, mengingat lebih dari 61 persen perjalanan wisatawan nusantara masih terpusat di lima provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Pariwisata terus mendorong diversifikasi destinasi melalui penguatan destinasi prioritas, destinasi regeneratif, serta pengembangan desa wisata di luar Pulau Jawa.
Peningkatan minat berwisata masyarakat juga terlihat pada periode Natal dan Tahun Baru. Pada rentang 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, data sementara Kementerian Perhubungan mencatat pergerakan pelaku perjalanan di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif mencapai 11,81 juta, atau tumbuh 10,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)