sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pertamax Tembus Rp16.250, Waspada Risiko Inflasi Akibat Ekspektasi Masyarakat

Economics editor Rohman Wibowo
13/06/2026 17:05 WIB
Namun, karena saat ini ekonomi kelas menengah sedang melemah, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu rantai kenaikan harga barang secara meluas.
Pertamax Tembus Rp16.250, Waspada Risiko Inflasi Akibat Ekspektasi Masyarakat. (Foto Istimewa)
Pertamax Tembus Rp16.250, Waspada Risiko Inflasi Akibat Ekspektasi Masyarakat. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Keputusan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax 92 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas harga barang di tingkat konsumen. Meski bukan merupakan bahan bakar utama untuk angkutan logistik massal, lonjakan harga ini terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan signifikan.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, dalam situasi ekonomi yang normal, kenaikan ini mungkin hanya dianggap sebagai fluktuasi harga biasa. Namun, karena saat ini ekonomi kelas menengah sedang melemah, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu rantai kenaikan harga barang secara meluas.

Nailul menjelaskan soal pasar sering kali bereaksi secara psikologis terhadap setiap pengumuman kenaikan BBM. Hal ini menciptakan fenomena di mana pedagang menaikkan harga jual produk mereka dengan alasan biaya distribusi, meskipun armada pengangkut mereka sebenarnya menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite.

"Akan tetapi, ada efek expected inflation yang terjadi dari kenaikan harga Pertamax 92 di mana pedagang akan menaikkan harganya dan konsumen akan menerima harga yang lebih mahal," ujar Nailul kepada IDX Channel, Sabtu (13/6/2026).

Lebih lanjut, dia merincikan, beban tambahan ini akan dirasakan langsung oleh sektor angkutan khusus seperti transportasi daring, taksi, hingga jasa travel yang mayoritas mengonsumsi Pertamax. Konsumen sendiri berada dalam posisi sulit karena tidak memiliki kemampuan untuk mengecek apakah pengantaran barang yang mereka beli benar-benar menggunakan BBM non-subsidi atau tidak.

Tekanan terhadap kelas menengah ini juga diprediksi akan mengubah perilaku konsumsi bahan bakar secara drastis dalam waktu dekat. Demi menghemat pengeluaran, masyarakat kemungkinan besar akan berbondong-bondong beralih ke Pertalite, yang pada akhirnya dapat mengancam ketersediaan stok bahan bakar subsidi tersebut di lapangan.

"Kita prediksi akan banyak masyarakat yang migrasi ke Pertalite yang pada akhirnya stok Pertalite akan dibatasi dan memicu perlambatan konsumsi rumah tangga," ujar dia.

Nailul menyimpulkan, inflasi yang timbul dari ekspektasi masyarakat ini harus segera diwaspadai oleh pemerintah. Jika daya beli terus tergerus akibat kenaikan harga barang yang tidak terkendali, pertumbuhan ekonomi nasional di sektor konsumsi rumah tangga dipastikan akan melambat secara signifikan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kenaikan harga Pertamax diharapkan berdampak terbatas mengingat BBM tersebut merupakan jenis nonsubsidi. Dia menilai, Pertamax selama ini tidak bersinggungan langsung dengan sektor logistik.

Oleh karena itu, perubahan harga ini diyakini tidak akan memicu efek domino terhadap lonjakan harga barang kebutuhan pokok di pasar.

"Dampaknya harusnya relatif minim karena kan Pertamax enggak dipakai angkutan barang," ujar Purbaya usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement