AALI
10000
ABBA
226
ABDA
7050
ABMM
850
ACES
1450
ACST
256
ACST-R
0
ADES
1645
ADHI
1060
ADMF
8025
ADMG
161
ADRO
1200
AGAR
420
AGII
1040
AGRO
865
AGRO-R
0
AGRS
510
AHAP
69
AIMS
490
AIMS-W
0
AISA
250
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3170
AKSI
720
ALDO
825
ALKA
236
ALMI
242
ALTO
326
Market Watch
Last updated : 2021/05/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
461.96
-0.19%
-0.89
IHSG
5834.39
0.01%
+0.53
LQ45
868.39
-0.13%
-1.11
HSI
28593.81
1.42%
+399.72
N225
28406.84
2.09%
+582.01
NYSE
16422.96
0.05%
+7.60
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,270
Emas
857,957 / gram

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I-2021 Diprediksi Minus 0,87 Persen

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Rabu, 05 Mei 2021 07:53 WIB
Pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2021 diperkirakan terkontraksi di kisaran -0,87%.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I-2021 Diprediksi Minus 0,87 Persen (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2021 diperkirakan terkontraksi di kisaran -0,87% (year on year /yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat -2,19%yoy.  

Ekonom Bank Permata Josua Parde mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran -1,0% yoy. Kontraksi pada kuartal 1 2021 tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi sebesar -3,61% yoy.  

"Semakin terbatasnya kontraksi dipengaruhi oleh percepatan belanja pemerintah pusat terutama belanja bansos, belanja modal dan belanja barang," kata Josua saat dihubungi MNC Portal di Jakarta, Selasa (5/5/2021).  

Selain itu pemerintah melakukan beberapa stimulus kebijakan seperti relaksasi PPN perumahan, relakasasi PPnBM kendaraan bermotor yang dikombinasikan dengan pelonggaran kebijakan DP kendaraan bermotor dan kebijakan LTV dari Bank Indonesia.  

Data yang menunjukan adanya perbaikan dari konsumsi rumah tangga di antaranya penjualan ritel, yang terkontraksi -17,1% yoy, membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal 2020  sebesar -19,2% yoy.  

Dari sisi Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), terlihat bahwa kontraksinya semakin terbatas, di mana pada kuartal I, tercatat IKK terkontrkasi sebesar -17,9%yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi pada kuartal keempat 2020, sebesar -23,6% yoy.  

Dari konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -21,1%yoy, sedikit membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal IV  sebesar -41,8%yoy.  

"Perbaikan penjualan mobil ditopang oleh pertumbuhan di bulan Maret 2021, di mana kebijakan relaksasi PPNBm serta pelonggaran kebijakan makroprudensial BI. Dari sisi penjualan motor, kontraksinya pun menurun bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di mana penjualan motor Januari- Maret 2021 terkontraksi -17,7%yoy dibandingkan dengan -49,8%yoy di Oktober sampaj Desember 2020," katanya. 

Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal IV tahun 2020 tercatat tumbuh positif sebesar 14,6%yoy, meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang masih berkontraksi sebesar -14,8% yoy.  

Pertumbuhan PMTB/Investasi pada kuartal I 2021 diperkirakan masih mengalami kontraksi di kisaran -2%yoy hingga -3%yoy, membaik dari kuartal sebelumnya yang tercatat -6,15%. Perbaikan ini dapat terindikasi pertumbuhan konsumsi semen yang terkontraksi -0,2%yoy pada Januari Maret  dari kuartal sebelumnya sebesar -13,8%yoy.  

"Masih kontraksinya konsumsi semen mengindikasikan bahwa investasi bangunan masih terkontraksi dibanding tahun lalu, meskipun kontraksinya tidak sedalam kuartal IV 2020," katanya. 

Selain itu, investasi non-bangunan juga diperkirakan melambat dibandingkan dengan periode pra-pandemi, terindikasi dari impor barang modal pada kuartal I 2021 terindikasi dari impor barang modal yang sudah tumbuh 11,5%yoy. 

"Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung tumbuh positif sejalan dengan kenaikan belanja pemerintah pada Jan-Mar’21 sebesar 15,61%yoy," imbuhnya  

Sementara itu, surplus neraca perdagangan pada kuartal 1 yang menurun dibandingkan kuartal sebelumnya mengindikasikan bahwa adanya penurunan net ekspor, yang didorong oleh penguatan impor secara umum. Meskipun demikian, volume permintaan ekspor cenderung meningkat sejalan dengan pemulihan aktivitas perekonomian global. Oleh sebab itu, net ekspor juga diperkirakan tumbuh positif. 

"Dengan indikator tersebut-tersebut, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I  akan jauh lebih membaik bila dibandingkan dengan kuartal IV 2020, dan memberi sinyal awal pemulihan ekonomi, ditopang oleh investasi dan juga konsumsi rumah tangga meskipun laju tahunan dari dua komponen tersebut masih terkontraksi," tandasnya. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD