"Angka pertumbuhan naik, tetapi jurang di baliknya saya kira tidak kunjung menyempit," kata dia.
Alim menilai paradigma pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan berpotensi menciptakan struktur ekonomi yang semakin timpang. Kelompok masyarakat terkaya dinilai lebih banyak menikmati manfaat pertumbuhan, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah justru menghadapi dampak yang lebih besar.
"Paradigma yang semata mengejar angka pertumbuhan saya kira cenderung melahirkan satu struktur ekonomi yang timpang. Dia menguntungkan kelompok 10 persen paling atas, sebaliknya ya merugikan 40 persen penduduk yang paling miskin," kata dia.
Selain ketimpangan, dia menyoroti dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga dapat membebani perekonomian nasional.
"Pada saat yang sama, lingkungan dan sumber daya alam di berbagai sektor juga menanggung kerusakan. Dan ironisnya, kerusakan itu pada gilirannya justru menggerus perekonomian nasional kita sendiri," ujar dia.
Dia mencontohkan bencana banjir, kekeringan, hingga degradasi lahan. Menurut Alim, berbagai persoalan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari persoalan ekonomi karena menimbulkan biaya dan kerugian bagi masyarakat maupun negara.
"Misalnya ada bencana banjir, kekeringan, dan juga degradasi lahan, saya kira bukan sekadar persoalan lingkungan semata. Dia bisa menjadi beban ekonomi yang cukup nyata juga," katanya.
(Dhera Arizona)