sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tak Cukup Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Suatu Pemerintahan

Economics editor Tangguh Yudha
21/08/2026 02:02 WIB
Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak cukup dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintah.
Pertumbuhan Ekonomi Saja Tak Cukup Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Suatu Pemerintahan. (Foto Istimewa)
Pertumbuhan Ekonomi Saja Tak Cukup Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Suatu Pemerintahan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak cukup dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintah. Sebab, pertumbuhan yang tinggi kerap dibarengi dengan persoalan ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.

"Sejak reformasi, kita begitu setia pada satu keyakinan, keberhasilan itu diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan. Semakin tinggi pertumbuhan, seolah semakin berhasil suatu pemerintahan," ujar Akademisi yang juga Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet dalam sesi diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Namun, dia menilai terdapat harga yang harus dibayar dari paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kata dia, sering kali mengorbankan pemerataan dan kelestarian lingkungan.

"Pertumbuhan yang tinggi itu seringkali ya mengorbankan pemerataan, dia juga mengorbankan kelestarian lingkungan," ujarnya.

Alim mencontohkan kondisi ketimpangan di Indonesia yang masih tercermin dari rasio Gini di kisaran 0,38. Sementara itu, kelompok 40 persen penduduk terbawah disebut hanya menikmati tidak lebih dari 20 persen total distribusi pengeluaran nasional.

"Angka pertumbuhan naik, tetapi jurang di baliknya saya kira tidak kunjung menyempit," kata dia.

Alim menilai paradigma pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan berpotensi menciptakan struktur ekonomi yang semakin timpang. Kelompok masyarakat terkaya dinilai lebih banyak menikmati manfaat pertumbuhan, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah justru menghadapi dampak yang lebih besar.

"Paradigma yang semata mengejar angka pertumbuhan saya kira cenderung melahirkan satu struktur ekonomi yang timpang. Dia menguntungkan kelompok 10 persen paling atas, sebaliknya ya merugikan 40 persen penduduk yang paling miskin," kata dia.

Selain ketimpangan, dia menyoroti dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga dapat membebani perekonomian nasional.

"Pada saat yang sama, lingkungan dan sumber daya alam di berbagai sektor juga menanggung kerusakan. Dan ironisnya, kerusakan itu pada gilirannya justru menggerus perekonomian nasional kita sendiri," ujar dia.

Dia mencontohkan bencana banjir, kekeringan, hingga degradasi lahan. Menurut Alim, berbagai persoalan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari persoalan ekonomi karena menimbulkan biaya dan kerugian bagi masyarakat maupun negara.

"Misalnya ada bencana banjir, kekeringan, dan juga degradasi lahan, saya kira bukan sekadar persoalan lingkungan semata. Dia bisa menjadi beban ekonomi yang cukup nyata juga," katanya.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement