sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Petani Sayur Kecipratan Berkah Program MBG, Pendapatan Naik hingga 60 Persen

Economics editor Dhera Arizona Pratiwi
21/04/2026 15:25 WIB
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak nyata bagi petani di daerah.
Petani Sayur Kecipratan Berkah Program MBG, Pendapatan Naik hingga 60 Persen. (Foto Istimewa)
Petani Sayur Kecipratan Berkah Program MBG, Pendapatan Naik hingga 60 Persen. (Foto Istimewa)

IDXChannel — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak nyata bagi petani di daerah. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan berkah bagi petani lokal melalui peningkatan permintaan dan stabilitas harga komoditas.

Perputaran ekonomi yang meningkat serta dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan produksi memperkuat optimisme petani untuk terus meningkatkan hasil panen demi mendukung keberlanjutan MBG.

Di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, para petani mulai merasakan perubahan signifikan. Jika sebelumnya hanya bergantung pada pasar tradisional dan tengkulak, kini hasil panen mereka juga terserap oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

Agus Irawan (34 tahun) petani asal Dukuh Pasah mengungkapkan dampak positif tersebut. Permintaan komoditas sayur-mayur yang dia tanam melonjak seiring permintaan dapur MBG, baik untuk komoditas tomat, brokoli, sawi putih, selada, hingga cabai.

“Permintaan tidak hanya dari tengkulak maupun pedagang sayur pada umumnya, tapi juga diserap oleh program MBG,” kata dia.

Agus menyebut kenaikan harga yang dirasakan petani berkisar antara 40 hingga 60 persen, bergantung jenis komoditas. Hal ini membuat dia senang dan bersemangat untuk bertani dan menjadi penopang program yang memberikan gizi kepada anak-anak Indonesia.

“Untuk peningkatan, sekitar 40 sampai 60 persen, bergantung dari jenis komoditas masing-masing sayuran,” ujarnya.

Selain peningkatan harga, dukungan pemerintah juga hadir melalui bantuan pupuk dari Dinas Pertanian Jawa Tengah. Bantuan pasokan pupuk ini turut mendorong produktivitas petani.

“Kami mendapatkan pupuk NPK dan juga pupuk ZA,” ujar dia.

Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung penanaman sayuran, termasuk menghadapi musim kemarau mendatang. Dengan bantuan tersebut ia bersama kelompok tani lainnya bisa bersiap menghadapi musim kemarau di Agustus 2026.

“Dengan adanya bantuan ini, nanti kami alokasikan untuk tambahan sayur-mayur. Jadi meskipun nanti di bulan-bulan Agustus itu ada musim kemarau, itu kami juga masih menanam untuk bisa menyuplai program MBG,” kata dia.

Hal serupa disampaikan Dianto (50 tahun), anggota Kelompok Tani Ngudi Santoso. Menurutnya, program MBG mendorong petani menyesuaikan komoditas dengan kebutuhan dapur program tersebut, seperti selada, buncis, wortel, sawi, dan brokoli.

Dia juga menjelaskan perhatian besar dari Pemprov Jawa Tengah yang menyalurkan bantuan pupuk kepada petani. 

“Bantuan pupuk yang dihasilkan dari dana hasil cukai tembakau ini untuk persiapan menanam sayur jelang musim kemarau,” ujarnya.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement