AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

PLTU Bakal Pensiun Dini, Ratusan Ribu Pekerja Tambang Terancam Nganggur

ECONOMICS
Athika Rahma
Selasa, 23 November 2021 15:52 WIB
Pemerintah tengah berupaya mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke energi hijau.
Pemerintah tengah berupaya mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke energi hijau. (Foto: MNC Media)
Pemerintah tengah berupaya mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke energi hijau. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah tengah berupaya mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke energi hijau. Target netral karbon pun digaungkan akan tercapai di tahun 2060 dengan berbagai cara, seperti memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kendati, megaplan ini diperkirakan akan berdampak pada banyak aspek, termasuk nasib tenaga kerja di sektor pertambangan batu bara. Jika operasional PLTU benar-benar distop, bukan tidak mungkin banyak pekerja yang akan menganggur.

"Mengingat industri batu bara merupakan industri padat karya, akan banyak terjadi pengurangan karyawan saat industri ini mulai tergerus," jelas Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (23/11/2021).

Mamit menjelaskan, dalam satu area produksi batu bara, terdapat puluhan ribu orang yang terlibat. Hal ini membuat ekonomi daerah sekitar tumbuh. Jadi, selain akan berdampak pada tenaga kerja, ekonomi lokal juga berpotensi melemah.

Selain itu, ujar Mamit, tarif listrik bisa naik karena biaya produksi energi terbarukan, yang menggantikan energi batu bara, juga tinggi. Atau, ada potensi kenaikan subsidi yang diberikan oleh negara.

Adapun, mengutip data Booklet Batu Bara Kementerian ESDM tahun 2020, industri batu bara menyerap kurang lebih 150.000 tenaga kerja pada tahun 2019. Komposisi pekerja asingnya hanya 0,1 persen, artinya 99,9 persen pekerja di industri ini adalah warga Indonesia.

Selain itu, menurut data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, per November 2020, Izin Usaha Pertambangan (IUP) di sektor batu bara berjumlah 1.167 IUP.

Jumlah ini terdiri dari IUP eksplorasi sebanyak 6 dan IUP operasi produksi sebanyak 1.161. Tentunya, langkah memensiunkan PLTU akan turut berdampak pada ribuan bisnis di sektor ini.

Lantas, apa langkah yang harus dilakukan pemerintah? Menurut Mamit, para pekerja tambang batu bara seharusnya dialihkan ke sektor padat karya yang serupa dengan industri batu bara.

Jika dialihkan ke sektor energi terbarukan, potensi serapannya akan kecil karena industri berbasis energi hijau masih belum berkembang di Indonesia.

"Serapan tenaga kerja di energi baru terbarukan ini terbatas dan khusus untuk mereka yang berpendidikan tinggi, beda dengan batu bara dimana untuk posisi tertentu tidak perlu pendidikan tinggi. Jadi memang harus dialihkan ke sektor lain yang sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas mereka," jelas Mamit. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD