Pemerintah juga telah menjalin koordinasi dengan lembaga keuangan besar di China, salah satunya adalah Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), untuk memuluskan proses penerbitan ini.
Purbaya menilai investor di pasar China memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap fundamental ekonomi Indonesia tanpa hanya terpaku pada peringkat kredit semata.
“Kami sudah berdiskusi dengan ICBC dan mereka siap. Dengan yield sekitar 2,3 persen saja, permintaan sudah sangat besar,” ujarnya.
Mengenai jadwal peluncuran, Purbaya memproyeksikan instrumen ini akan dirilis pada bulan depan. Untuk mematangkan persiapan teknis dan menjaring basis investor yang lebih luas, jajaran Kementerian Keuangan dijadwalkan akan segera bertolak ke China.
“Bulan depan kemungkinan kami akan ke China untuk mempersiapkan penerbitan ini,” kata Purbaya.