Adapun pemerintah akan menggunakan sisa anggaran lebih atau SAL sebagai penyangga fiskal, terutama jika market mengalami gejolak akibat faktor eksternal.
"Sehingga stabilisasi terutama pada saat market, terutama bond market kadang-kadang mengalami gejolak yang tidak ada dalam kontrol kita, terjadi karena situasi di Amerika atau statement atau kebijakan yang terjadi di luar yang bisa mempengaruhi kondisi market kita," kata dia.
Sebagai informasi, pembiayaan utang dalam RAPBN 2026 dipatok Rp781,9 triliun, meningkat dari outlook 2025 sebesar Rp715,5 triliun. Pembiayaan utang ini akan dipenuhi dari penerbitan SBN neto sebesar Rp749,19 triliun dan penarikan pinjaman Rp32,67 triliun.
(NIA DEVIYANA)