Menurutnya, stabilitas nilai tukar tetap menjadi harapan pelaku usaha, terutama jika kondisi global, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Dia berharap rupiah dapat kembali ke level yang lebih stabil, bahkan di bawah Rp17 ribu per USD.
Meski demikian, Anindya menekankan faktor utama yang perlu dijaga adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia. Selama Indonesia masih mencatat surplus perdagangan, peluang penguatan ekonomi tetap terbuka.
"Yang paling penting selama kita masih surplus perdagangan, masih ada potensi untuk menjadi penguatan. Tapi artinya kan yang paling penting secara kompetisi, bahan kita masih diminati," kata Anindya.
(Dhera Arizona)