AALI
9275
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
720
ACST
192
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
815
ADMF
8200
ADMG
177
ADRO
3250
AGAR
310
AGII
2220
AGRO
750
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
745
ALKA
296
ALMI
308
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
546.99
1.02%
+5.51
IHSG
7186.56
0.74%
+53.11
LQ45
1026.34
0.98%
+9.98
HSI
19763.91
-0.8%
-158.54
N225
28942.14
-0.96%
-280.63
NYSE
0.00
-100%
-15846.79
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,765
Emas
836,469 / gram

Satgas Optimis Indonesia Bisa Segera Lewati Gelombang Ketiga Covid-19

ECONOMICS
Binti Mufarida
Kamis, 17 Februari 2022 21:42 WIB
Kasus Covid-19 saat ini terus menunjukkan lonjakan. Bahkan, pada fase varian Omicron ini telah melebihi puncak saat varian Delta lalu.
Satgas Optimis Indonesia Bisa Segera Lewati Gelombang Ketiga Covid-19
Satgas Optimis Indonesia Bisa Segera Lewati Gelombang Ketiga Covid-19

IDXChannel - Kasus Covid-19 saat ini terus menunjukkan lonjakan. Bahkan, pada fase varian Omicron ini telah melebihi puncak saat varian Delta lalu. Kasus harian Covid-19 kini tembus di angka lebih dari 64 ribu kasus. Sementara pada saat puncak gelombang kedua atau Delta di angka 56 ribu kasus dalam satu hari.

Namun begitu, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito optimis gelombang ketiga Covid-19 akibat varian Omicron saat ini bisa terlewati. “Saya percaya Indonesia dapat segera melewati lonjakan kasus ketiga ini,” katanya saat Konferensi Pers secara virtual, Kamis (17/2/2022).

“Kuncinya, adalah apabila kebijakan berlapis yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yang dirancang semata-mata untuk melindungi satu persatu dari kita dilaksanakan dengan kesadaran tinggi,” tegas dia.  

Saat ini, Indonesia masih terus melaksanakan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel yang disesuaikan dengan dinamika kasus Covid-19 dan menyesuaikan daerah masing-masing.

Prof Wiku pun mengatakan bahwa kebebasan yang melekat pada setiap orang tidak menjadikan seseorang bebas menempatkan orang lain pada situasi yang berisiko hingga mengakibatkan gejala berkepanjangan bahkan menghilangkan nyawa. “Kebebasan juga tidak berarti kita bebas mengacuhkan keselamatan bersama,” katanya.  

“Ingat pembatasan aktivitas yang harus diterapkan ketika kasus melonjak tidak hanya merugikan kita sebagai individu namun juga menimbulkan penurunan ekonomi negara yang tidak sedikit jumlahnya,” ungkapnya. 

(NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD