AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Singapura Sukses Vaksinasi Tapi Covid Malah Melonjak, Ini Biang Keroknya

ECONOMICS
Binti Mufarida/Sindonews
Senin, 20 September 2021 10:10 WIB
Singapura merupakan salah satu negara paling sukses dalam pemberian vaksin covid kepada raykatnya. Namun, ternyata kasus covid malah kembali melonjak.
Singapura Sukses Vaksinasi Tapi Covid Malah Melonjak, Ini Biang Keroknya (FOTO: MNC Media)
Singapura Sukses Vaksinasi Tapi Covid Malah Melonjak, Ini Biang Keroknya (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Singapura merupakan salah satu negara paling sukses dalam pemberian vaksin covid kepada raykatnya. Tercatat 80 persen dari total 5,7 penduduk Singapura sudah di vaksinasi. Namun, ternyata kasus covid di Singapura malah kembali melonjak dan menyentuh rekor terbaru. Kok bisa?

Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengungkapkan lonjakan kasus terjadi akibat adanya klaster Covid-19 yang berasal dari pusat belanja, tempat kerja, hingga stasiun. 

“Klaster berasal dari pusat belanja, tempat kerja, hingga stasiun,” ungkap Zubairi dalam media sosial pribadinya, Senin (20/9/2021).

Singapura melaporkan 1.012 kasus baru Covid-19 pada 19 September 2021. Ini merupakan rekor tertinggi kasus Covid-19 Singapura sejak April 2020. 

Kondisi semakin buruk ditandai juga dengan kebutuhan oksigen di rumah sakit yang terus meningkat. Meski begitu, rumah sakit belum dinyatakan kritis. 


"Selama 28 hari terakhir, persentase kasus lokal yang asimtomatik atau gejala ringan mencapai 98,1 persen. Dari 114 kasus yang memerlukan bantuan tabung oksigen, 56 pasien tidak divaksinasi lengkap dan 58 kasus lainnya sudah divaksinasi lengkap. Dari 8 pasien ICU, 5 tidak divaksinasi lengkap dan 3 pasien sudah divaksinasi lengkap " papar Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, beberapa waktu lalu, dikutip dari The Guardian. 


Lebih lanjut, Menteri Keuangan sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Singapura, Lawrence Wong, mengatakan bahwa indikator utama dalam menentukan langkah pembukaan kembali adalah jumlah pasien di unit perawatan intensif selama dua hingga empat minggu ke depan.


"Saat ini tersedia 300 tempat tidur ICU, yang bisa ditambah menjadi 1.000.  Jika jumlahnya tetap dapat dikelola, negara akan melanjutkan rencana pembukaan kembali," katanya.


Sementara itu, dengan kejadian ini, Menteri Kesehatan mulai melarang pertemuan sosial di tempat kerja sebagai tanggapan terhadap klaster yang terdeteksi di kantin perkantoran. 

Varian Delta mendominasi kasus Covid-19 di Singapura. Varian yang diketahui mudah menyebar tersebut bahkan mulai banyak menginfeksi usia anak. Per 14 September 2021, Kementerian Kesehatan Singapura mencatat 367 kasus Covid-19 pada anak-anak, dengan 172 kasus adalah varian Delta. 


"Anak-anak di bawah usia 12 tahun menyumbang 0,6 persen dari semua kasus infeksi lokal (menyebar antarmastarakat Singapura)," terang laporan Kemenkes Singapura, dikutip dari laman resminya. 


Di antara kasus anak-anak Covid-19 di Singapura itu, 50 kasus berusia 0-1 (13,6 persen), 83 kasus berusia 2-4 (22,6 persen), 76 kasus berusia 5-6 (20,7 persen), dqn 158 kasus berusia 7-12 (43,1). Artinya, anak usia 7 hingga 12 paling banyak terinfeksi Covid-19.


Data global menunjukkan bahwa proporsi kasus anak terinfeksi Covid-19 parah sangat rendah dibandingkan pada kelompok usia dewasa.  Persentase anak yang terinfeksi yang mengalami penyakit parah dan memerlukan perawatan intensif adalah 0,7 persen di Israel, 0,3 persen di Republik Korea, dan 0,6 persen di Prancis.


"Ada bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan kondisi medis yang mendasari seperti genetik, neurologis, kondisi metabolisme, beberapa tingkat kompleksitas medis, penyakit jantung bawaan, obesitas, diabetes, asma, penyakit paru-paru kronis, penyakit sel sabit, atau imunosupresi mungkin berisiko lebih tinggi mengalami Covid-19 kondisi," terang Kemenkes Singapura. 

Sebelumnya, Zubairi pun telah mengingatkan agar Indonesia waspada dan berkaca dari penanganan Covid-19 di negara lain. Selain itu, dia mengingatkan untuk mempersiapkan kapasitas layanan kesehatan untuk mengelola potensi lonjakan kasus.

“Kita harus mempersiapkan juga kapasitas layanan kesehatan untuk mengelola lonjakan kasus di masa depan. Mitigasi ini harus ada,” kata Zubairi.

Kasus Covid-19 di Tanah Air yang mulai membaik, kata Zubairi, harus dijadikan momentum untuk mempersiapkan transisi namun tidak boleh menurunkan kewaspadaan. 

“Saya rasa situasi yang membaik ini momentum yang pas untuk mempersiapkan transisi. Ya syaratnya harus ada koordinasi yang solid semua pihak dan tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Kalau longgarnya kebablasan, bisa-bisa malah menjadi hiperendemi, alih-alih menuju endemi,” tutup Zubairi. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD