AALI
9725
ABBA
302
ABDA
5825
ABMM
1370
ACES
1255
ACST
184
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2310
AGAR
360
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
69
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
172
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1090
AKRA
710
AKSI
690
ALDO
1390
ALKA
292
ALMI
288
ALTO
260
Market Watch
Last updated : 2022/01/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.19
-0.02%
-0.10
IHSG
6611.16
0.16%
+10.34
LQ45
947.02
0.02%
+0.16
HSI
23775.35
-2.12%
-514.55
N225
26170.30
-3.11%
-841.03
NYSE
16236.51
-0.64%
-103.81
Kurs
HKD/IDR 1,844
USD/IDR 14,383
Emas
837,385 / gram

Soal Pelita Air Gantikan Garuda Indonesia (GIAA), Pengamat: Bisa Terjadi Perang Harga

ECONOMICS
Azfar Muhammad
Rabu, 20 Oktober 2021 15:00 WIB
Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menanggapi terkait wacana Garuda Indonesia (GIAA) yang tengah pailit dan akan digantikan oleh Pelita Air milik Pertamina.
Soal Pelita Air Gantikan Garuda Indonesia (GIAA), Pengamat: Bisa Terjadi Perang Harga (FOTO:MNC Media)
Soal Pelita Air Gantikan Garuda Indonesia (GIAA), Pengamat: Bisa Terjadi Perang Harga (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menanggapi terkait wacana Garuda Indonesia (GIAA) yang tengah pailit dan akan digantikan oleh Pelita Air milik Pertamina. 

Sehubungan dengan itu, Gatot mengatakan untuk model penerbangan antara Garuda Indonesia dengan pelita air akan ada beberapa tantangan kedepan. 

"Pelita air itu kan selama ini maskapai carter (tidak berjadwal) sedangkan Garuda berjadwal. Selain itu armada Garuda juga lebih banyak daripada Pelita. Bisa saja Pelita gantikan Garuda tapi kemungkinan hanya setengah rute atau frekuensi penerbangan saja yang bisa digantikan pelita," kata Gatot saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (20/10/2021) 

Dalam kesempatannya dirinya menyebut beberapa tantangan bisnis di penerbangan berjadwal sangat berbeda dibanding penerbangan carter. 

"Aturan bisnisnya lebih banyak dan persaingannya lebih ketat, bahkan cenderung terjadi perang harga sehingga mengakibatkan banyak maskapai bangkrut. Selama kurun waktu 2015-2019 sebelum pandemi, kondisi keuangan maskapai berjadwal Indonesia sudah memprihatinkan,banyak rugi dan utang pada pandemi covid, tambah parah lagi," bebernya. 

Dirinya menyampaikan beberapa tantangan internal dan eksternal dalam mengubah maskapai carter jadi berjadwal. 

"Kedua yaitu perannya sebagai BUMN yang banyak melakukan penugasan dari negara walaupun operasionalnya rugi. Misalnya terbang ke bandara baru yang sudah terlanjur dibangun pemerintah, itu tentu akan rugi dulu, juga penugasan untuk menjaga stabilitas harga tiket sehingga tidak bisa menjual harga tinggi sesuai prinsip ekonomi,"tambahnya. 

Meski demikian, saat ini Pihak Garuda Indonesia saat ini tengah menunggu putusan gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta. 

"Tantangan eksternal, iklim bisnis penerbangan berjadwal yg cenderung terjadi perang harga. Untuk yang eksternal ini, seharusnya juga dibenahi pemerintah dalam hal ini kementerian perhubungan sebagai regulator penerbangan sipil indonesia agar iklim bisnisnya menjadi adil bagi semua maskapai," pungkasnya.   

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD