Pemerintah diperkirakan menekan belanja, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar sepertiga, sekaligus memanfaatkan pemulihan penerimaan pajak dan pendapatan sektor komoditas.
S&P juga melihat pendapatan negara mulai membaik setelah penerimaan semester I-2026 meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan didukung pulihnya penerimaan pajak serta royalti sektor sumber daya alam (SDA) seiring membaiknya harga komoditas.
Meski demikian, beban pembayaran bunga utang masih relatif tinggi akibat peningkatan utang selama pandemi, kenaikan imbal hasil obligasi, dan pelemahan rupiah.
Rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan diperkirakan tetap di atas 15 persen hingga 2027 sebelum kembali menurun.
Dari sisi eksternal, S&P memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2,1 persen dari PDB pada 2026 akibat lonjakan biaya impor energi.