Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, didorong peningkatan konsumsi saat libur dan belanja pemerintah.
Namun, pasar keuangan bergejolak dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar pada paruh pertama tahun ini, sementara rupiah melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS.
S&P menilai tekanan tersebut dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang mendorong lonjakan harga minyak.
Sebagai importir bersih minyak, Indonesia menghadapi kenaikan biaya impor energi yang mempersempit surplus perdagangan.
Di sisi fiskal, S&P memperkirakan defisit APBN tetap berada di bawah batas 3 persen dari PDB.