sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sulit Dapatkan LPG 12 Kg, SPPG di NTT Berhenti Beroperasi Sementara

Economics editor Kunthi Fahmar Sandy
14/05/2026 07:14 WIB
Buntut dari kesulitan mendapatkan pasokan gas LPG tabung 12 kilogram, beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di kawasan Nusa Tenggara Timur berhenti sementara
Sulit Dapatkan LPG 12 Kg, SPPG di NTT Berhenti Beroperasi Sementara (FOTO:iNews Media Group)
Sulit Dapatkan LPG 12 Kg, SPPG di NTT Berhenti Beroperasi Sementara (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Buntut dari kesulitan mendapatkan pasokan gas LPG tabung 12 kilogram, beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa menyetop aktivitas mereka untuk sementara waktu.

Penyetopan kegiatan ini tidak terjadi serentak, melainkan berangsur-angsur sejak 8 Mei 2026. Imbasnya, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah kawasan, mulai dari Kabupaten Manggarai, Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Kabupaten Belu, sampai dengan Kabupaten Sumba Barat menjadi terhambat.

"SPPG berhenti operasional sementara disebabkan kelangkaan gas di beberapa wilayah Provinsi NTT. Penghentian berlangsung bertahap sejak 8 Mei 2026," kata Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Kabupaten Manggarai menjadi daerah pertama yang mengalami penundaan operasional tersebut pada 8 Mei 2026. Minimnya stok bahan bakar gas membuat berbagai SPPG di wilayah tersebut tidak sanggup meneruskan proses pembuatan makanan.

Memasuki tanggal 11 sampai 12 Mei 2026, situasi penghentian layanan ini makin merembet ke berbagai titik lainnya di NTT. Beberapa kawasan yang ikut terdampak mencakup Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Kabupaten Belu, serta Kabupaten Sumba Barat.

Tersendatnya ketersediaan gas ini secara otomatis mengganggu jalannya penyiapan hidangan gizi. Pasalnya, mayoritas fasilitas SPPG memang mengandalkan LPG berukuran 12 kg sebagai bahan bakar utama untuk menopang rutinitas memasak mereka setiap harinya.

"Kelangkaan gas LPG 12 kilogram memengaruhi operasional SPPG di lapangan sehingga beberapa layanan belum dapat berjalan normal sampai pasokan kembali tersedia," tuturnya.

Menyikapi kondisi tersebut, pihak BGN saat ini terus memantau dinamika di lapangan sembari menjalin koordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait. Langkah ini diprioritaskan guna menjamin agar distribusi bahan bakar gas bisa kembali stabil, sehingga SPPG dapat segera menjalankan fungsinya seperti sedia kala.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement