AALI
9325
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
735
ACST
202
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
800
ADMF
8200
ADMG
176
ADRO
3150
AGAR
322
AGII
2250
AGRO
760
AGRO-R
0
AGRS
112
AHAP
106
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1165
AKSI
272
ALDO
755
ALKA
292
ALMI
302
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.49
1.15%
+6.13
IHSG
7133.45
0.57%
+40.18
LQ45
1016.36
1.05%
+10.57
HSI
19830.52
-1.05%
-210.34
N225
28868.91
-0.01%
-2.87
NYSE
0.00
-100%
-15804.38
Kurs
HKD/IDR 190
USD/IDR 14,725
Emas
840,925 / gram

Terapkan Sistem SNANK, Impor Garam Bakal Diatur Sangat Ketat

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Sabtu, 06 Agustus 2022 12:02 WIB
Kementerian Perindustrian akan menerapkan Sistem Nasional Neraca Komoditas (SNANK). Dengan terapan itu, maka impor garam akan diatur dengan sangat ketat.
Terapkan Sistem SNANK, Impor Garam Bakal Diatur Sangat Ketat. (Foto: MNC Media)
Terapkan Sistem SNANK, Impor Garam Bakal Diatur Sangat Ketat. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menerapkan Sistem Nasional Neraca Komoditas (SNANK). Dengan terapan itu, maka impor garam akan diatur dengan sangat ketat oleh pemerintah.

"Impor garam untuk keperluan industri hanya dapat diimpor oleh API-P (Importir Produsen). Untuk sektor industri CAP dan farmasi kosmetik, garam diimpor oleh industri penggunanya langsung,” tegas Menperin Agus Gumiwang Kartasmita dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (6/8/2022).

Dengan demikian, seluruh industri yang membutuhkan impor garam mengajukan permohonan melalui sistem tersebut, kemudian diverifikasi oleh Kemenperin melalui lembaga verifikasi independen. Selanjutnya, hasil verifikasi ini dibahas melalui rapat koordinasi.

Industri sektor industri Chlor Alkali Plant (CAP) atau industri kimia dasar yang lahap garam, menggunakan bahan baku garam untuk menghasilkan produk berupa PVC, pipa, kabel, pulp, kertas, kaustik soda dan lain-lain. Sedangkan industri farmasi menggunakan bahan baku garam untuk memproduksi infus, cairan hemodialisa, obat-obatan, injeksi, dan lainnya.

Kemudian untuk sektor industri aneka pangan, garam diimpor oleh industri pengolahan garam berupa garam krosok yang diolah menjadi garam halus atau garam jadi, sesuai spesifikasi industri makanan dan minuman yang membutuhkan sebagai bahan baku atau bahan penolong.

"Garam yang telah diolah ini didistribusikan ke industri makanan dan minuman yang membutuhkan bahan baku garam untuk memproduksi bumbu, mi instan, makanan ringan, biskuit, dan lain-lain,” terang Menperin. 

Lebih lanjut dia menjelaskan, industri pengolahan garam yang melakukan importasi untuk sektor aneka pangan diwajibkan juga menyerap garam lokal sebagaimana amanat Permenperin Nomor 34 tahun 2018, yang kemudian diolah menjadi garam konsumsi atau garam industri yang dapat menggunakan bahan baku lokal.

Menerin bilang, garam impor saat ini hanya digunakan untuk tiga sektor industri yaitu industri CAP, farmasi dan kosmetik, serta aneka pangan, yang memerlukan kualitas garam industri cukup tinggi.

Tidak hanya kandungan NaCl minimum 97 persen, tetapi juga impuritas yang rendah, jumlah pasokan yang memadai, kontinuitas pasokan yang terjamin, serta harga yang bersaing, karena produk akhirnya tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri namun juga untuk kebutuhan ekspor.

Peningkatan kualitas ini dimulai dari proses hulu produksi garam oleh petani dengan menjaga konsistensi masa produksi garam sampai memperoleh hasil yang optimal, dengan kandungan NaCl untuk garam konsumsi minimal 94 persen untuk garam konsumsi, dan garam industri minimal 97 persen.

"Untuk itu, industri pengolahan garam harus dapat meningkatkan kualitas hasil olahan garam lokal melalui proses pengolahan garam berbasis teknologi modern sehingga produk jadinya dapat diterima oleh industri,” pungkas Menperin. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD