“Pada Mei, kami pernah menawarkan penjualan 100 ribu ton beras dengan harga USD538 per ton, harga FOB. Namun, dibandingkan dengan harga dari perusahaan Lộc Trời, harga dari TLG lebih tinggi, sehingga kami tidak jadi ikut,” kata Truong.
Menurutnya, Indonesia membeli beras melalui tender Bulog dan membeli dengan harga CNF bukan harga FOB, dan harga CNF dari perusahaan Lộc Trời, Thuận Minh, Quang Phát sekitar USD568 per ton atau dengan harga FOB sekitar USD530 per ton, lebih rendah dari penawaran TLG sebesar USD538 per ton.
“Harga FOB kami lebih tinggi USD5-USD8 per ton,” ujar Truong.
Di sisi lain, ada ketakutan bila isu mark up beras bisa berdampak pada kelancaran pembelian beras Indonesia dari Vietnam hingga akhir 2024. Bahkan memengaruhi hubungan bilateral perdagangan kedua negara.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Hubungan Antar Lembaga Bulog, Sonya Mamoriska mengatakan, Bulog mendapatkan penugasan untuk mengimpor beras sebesar 3,6 juta ton sepanjang tahun ini.