IDXChannel - UBS Global Wealth Management memprediksi Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September dan Desember.
Dilansir dari Global Banking & Finance Review pada Selasa (8/9/2026), hal ini menyusul data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan.
Sebelumnya, UBS tidak memperkirakan akan ada perubahan kebijakan The Fed tahun ini, tetapi perkembangan terkini telah mengubah prospek.
UBS menyebutkan pernyataan yang cenderung hawkish, khususnya dari Ketua The Fed Kevin Warsh pada konferensi Jackson Hole, bersama dengan risiko inflasi dan data tenaga kerja yang kuat, sebagai alasan revisi proyeksi tersebut.
Sebelumnya, sejumlah firma keuangan lain juga memrediksi kenaikan suki bunga The Fed pada September dan Desember, termasuk Barclays.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Dia bahkan mengancam akan menghentikan hubungan perdagangan dengan sejumlah negara jika hal itu tidak dilakukan.
"Turunkan suku bunga atau saya akan berhenti berdagangan dengan negara-negara di mana kita mengalami defisit," kata Trump di media sosial akhir pekan lalu.
"Dewan Federal Reserve, dengan pemimpin barunya yang hebat, harus bertindak cerdas dan jadilah patriot untuk perubahan. Suku bunga tinggi menempatkan AS pada posisi yang sangat tidak adil, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi," katanya.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 15-16 September. Sebelumnya, bank sentral mempertajankan suku bunga acuan di kisaran di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen untuk kelima kalinya secara beruntun. (Wahyu Dwi Anggoro)