sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Unilever Oleochemical Tambah Investasi Rp2,59 Triliun di KEK Sei Mangkei

Economics editor Rohman Wibowo
27/08/2026 11:46 WIB
Sebagai investor utama di KEK Sei Mangkei, total investasi kumulatif UOI hingga 2026 telah menyentuh Rp9,31 triliun.
Unilever Oleochemical Tambah Investasi Rp2,59 Triliun di KEK Sei Mangkei. Foto: dok. Kemenkeu.
Unilever Oleochemical Tambah Investasi Rp2,59 Triliun di KEK Sei Mangkei. Foto: dok. Kemenkeu.

IDXChannel - PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) menggelontorkan penanaman modal sebesar USD155 juta atau setara Rp2,59 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Fasilitas tersebut akan memproduksi fatty alcohol, salah satu bahan baku utama industri oleokimia untuk aneka produk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai investor utama di KEK Sei Mangkei, total investasi kumulatif UOI hingga 2026 telah menyentuh Rp9,31 triliun. Peresmian fasilitas manufaktur baru ini diyakini bakal mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di dalam kawasan, sejalan dengan kontribusi ekspor perseroan yang solid.

Pada semester I-2026, nilai ekspor UOI menembus sekitar Rp7,14 triliun, merepresentasikan lebih dari 50 persen dari total capaian ekspor seluruh pelaku usaha di KEK Sei Mangkei yang membukukan Rp13,78 triliun pada periode yang sama.

Portofolio produk olahan UOI seperti fatty acid, glycerin, dan soap noodles kini telah menjangkau pasar ekspor di 42 negara, termasuk China, Korea Selatan, hingga Prancis.

Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menyampaikan ekspansi UOI mencerminkan model investasi yang terus dipacu pemerintah, yakni penanaman modal yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah domestik, pembukaan lapangan kerja, peningkatan devisa ekspor, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

“Ekspansi UOI menunjukkan bahwa KEK Sei Mangkei telah berkembang melampaui sekadar lokasi investasi menjadi sebuah ekosistem industri yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah maupun nasional. Di dalam kawasan ini, UOI memainkan peran penting sebagai salah satu investor utama,” ujar Rizal dalam keterangan resmi, Kamis (27/8/2026).

Rizal menambahkan pemerintah menyambut baik kelanjutan ekspansi bisnis UOI sebagai bagian dari peta jalan penguatan ekosistem industri hilir nasional. Pemerintah berkomitmen memelihara iklim investasi yang kondusif serta menjamin KEK memberikan kepastian berusaha dan kemudahan bagi para pelaku industri untuk berekspansi.

Dukungan serupa diutarakan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot. Menurutnya, akselerasi hilirisasi industri wajib ditopang oleh kesiapan infrastruktur dan pasokan energi yang memadai guna mendongkrak daya saing kawasan di pasar internasional. 

Salah satu langkah konkret diwujudkan lewat pembangunan jaringan pipa gas tambahan ruas Dumai–Sei Mangkei dengan alokasi investasi sekitar Rp3,5 triliun.

“Dengan adanya ketersediaan gas dan listrik yang cukup, ketersediaan bahan baku, serta posisi yang strategis, kita dapat meningkatkan daya saing di pasar global,” ujar Yuliot.

Di samping pasokan gas bumi, pemerintah secara konsisten meningkatkan ketersediaan daya listrik di Sumatera Utara melalui pengembangan pembangkit energi baru terbarukan. Penguatan infrastruktur ketenagalistrikan ini diarahkan untuk menjamin kebutuhan energi sektor manufaktur sekaligus memantapkan daya saing KEK Sei Mangkei di rantai pasok dunia.

Dari perspektif regional, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, menilai operasional KEK Sei Mangkei terbukti mendorong pemerataan pembangunan ekonomi ke wilayah nonperkotaan.

“Keberadaan KEK Sei Mangkei juga memberikan dampak terhadap pemerataan pembangunan di Sumatera Utara. Industri besar tidak hanya berada di perkotaan, tetapi juga berkembang di Kabupaten Simalungun,” ujar Surya.

Ekspansi fasilitas produksi UOI ini merupakan kelanjutan dari komitmen investasi jangka panjang perseroan pascapeletakan batu pertama Project KernelMax pada 2024. Pengembangan kapasitas manufaktur tersebut diarahkan untuk memacu hilirisasi sumber daya alam lokal sekaligus memperkokoh kapabilitas produksi Unilever di Indonesia.

Chief Supply Chain Officer Unilever, Willem Uijen, menegaskan komitmen korporasi untuk terus memperkuat basis rantai pasok manufaktur di Tanah Air.

“Sebagai perusahaan yang telah hadir di Indonesia selama lebih dari 90 tahun, Unilever sepenuhnya mendukung visi nasional tersebut. Indonesia memiliki modal lengkap untuk menjadi pusat manufaktur global, seperti sumber daya melimpah, SDM kompetitif, ekosistem kewirausahaan yang kuat, dan infrastruktur modern,” ujar Willem.

Secara agregat hingga 2026, KEK Sei Mangkei telah menghimpun total investasi kumulatif mencapai Rp33,15 triliun, menyerap sebanyak 16.191 tenaga kerja, serta menaungi 29 entitas pelaku usaha. 

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement