Faisal menjelaskan bahwa penurunan nominal ULN swasta mencerminkan surutnya gairah bisnis di dalam negeri. Saat korporasi memilih bersikap defensif dengan membatasi aktivitas produksi dan menunda ekspansi usaha, kebutuhan mereka akan likuiditas valuta asing secara otomatis ikut merosot.
Kelesuan operasional swasta ini berdampak berantai pada berkurangnya kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga negara terpaksa mengambil alih beban penjagaan stabilitas nasional melalui belanja pemerintah.
Di tengah pasifnya sektor swasta, peran pembiayaan publik oleh pemerintah justru bergerak ke arah sebaliknya. Pemerintah terpaksa menarik utang baru guna menutup defisit anggaran belanja yang kian melebar demi menjaga agar mesin perekonomian tetap berjalan.
Strategi penutupan celah fiskal ini diwujudkan melalui penarikan pinjaman luar negeri secara langsung serta penerbitan instrumen obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) di pasar keuangan domestik.
Dana hasil utang tersebut selanjutnya dialokasikan untuk mengelola perekonomian agar tetap bertahan dari guncangan eksternal. Salah satunya direalisasikan melalui intervensi kebijakan penyeimbang (countercyclical) demi meredam dampak tekanan ekonomi terhadap daya beli masyarakat kelas bawah.