Anggaran pembiayaan ini diserap secara besar-besaran untuk mengompensasi pembengkakan subsidi energi domestik, sebuah konsekuensi dari melambungnya harga minyak mentah Indonesia (ICP) di pasar global serta efek depresiasi nilai tukar rupiah.
Kebijakan penyelamatan ekonomi tersebut dinilai menyisakan konsekuensi finansial jangka panjang bagi neraca keuangan negara. Akumulasi utang baru yang terus ditarik di tengah tren pelemahan nilai tukar berisiko memicu beban fiskal yang luar biasa di masa depan.
"Sebetulnya, dalam kondisi seperti sekarang, peningkatan utang luar negeri yang dibarengi dengan pelemahan nilai tukar rupiah secara otomatis akan meningkatkan nilai kewajiban pembayaran utang tersebut di masa mendatang," kata Faisal.
(NIA DEVIYANA)