AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Utang Perusahaan Properti Raksasa China Evergrande Bikin Sri Mulyani Cemas

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Senin, 25 Oktober 2021 11:45 WIB
Perusahaan Properti asal China, Evergrande Group terlilit utang Rp4.000 triliun, kondisi ini membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani cemas.
Utang Perusahaan Properti Raksasa China Evergande Bikin Sri Mulyani Cemas (FOTO: MNC Media)
Utang Perusahaan Properti Raksasa China Evergande Bikin Sri Mulyani Cemas (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Perusahaan Properti raksasa asal China, Evergande Group terlilit utang Rp4.000 triliun dan terancam gagal bayar, kondisi ini membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani cemas. Namun, belakangan, Evergrande dikabarkan sudah mulai melakukan pembayaran bunga utangnya.

Menurut Sri Mulyani, walau sudah mulai menyicil pembayaran bunga utang, namun pembayaran utang ini masih permulaan dan akan menyebabkan ekonomi China melambat.

"Kasus evergrande udah mulai cicilan  utang tapi ini belum selesai dan potensinya perlambatan ekonomi di Tiongkok," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Senin (25/10/2021).

Kata Sri Mulyani, ekonomi China yang melambat akan berdampak besar terhadap ekonomi global. Artinya, Indonesia juga akan terkena dengan dampak perlambatan ekonomi di China dengan harga komoditas akan naik. 

"Perlambatan  ekonomi di Tiongkok juga  dampak ekonomi global termasuk harga komoditas dan pertumbuahn ekonomi keseluruhan," katanya. 

Saat ini,  Evergrande mulai melakukan pembayaran bunga utang sebesar USD83,5 juta atau setara Rp1,16 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS) pada obligasi dalam bentuk dolar yang jatuh tempo bulan lalu.

Langkah tersebut menjadi sinyal positif bagi para investor sekaligus menunjukkan bahwa Evergrande mulai menjauh dari ambang gagal bayar (default). 

Setidaknya ada perpanjangan waktu satu minggu lagi untuk mengatasi krisis utang yang telah mengguncang kepercayaan investor terhadap bisnis Negeri Tirai Bambu. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD