AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Viral Alun-Alun Jogja hingga Monas Dijual di Metaverse, Pakar: Belum Ada Aturan Spesifik

ECONOMICS
Hafid Fuad
Sabtu, 08 Januari 2022 13:31 WIB
Pakar tanggapi soal alun-alu Jogja dan Monas yang dijual di Metaverse.
Viral Alun-Alun Jogja hingga Monas Dijual di Metaverse, Pakar: Belum Ada Aturan Spesifik (Dok.Okezone/wego)
Viral Alun-Alun Jogja hingga Monas Dijual di Metaverse, Pakar: Belum Ada Aturan Spesifik (Dok.Okezone/wego)

IDXChannel- Beberapa hari terakhir heboh Alun-Alun Utara Yogyakarta dan Monas yang dijual secara virtual. Penjualan itu dilakukan di platform metaverse, NFT,  juga Next Earth.

Pakar komunikasi digital UI, Firman Kurniawan, mengatakan ruang virtual masih belum terlalu diatur dalam peraturan hukum tanah air. Dia mengingatkan ruang virtual tidak berarti sama dengan kondisi sebenarnya. Jadi tidak tepat bila status kepemilikan di dunia virtual itu disamakan dengan dunia nyata. 

Namun dirinya mengaku kondisi ini bisa memicu kerancuan yang bisa berujung pada munculnya berbagai masalah.

"Masalah bisa muncul karena belum ada aturan hukum yang spesifik. Sementara ada risiko tafsir aturannya dicampur aduk dengan aturan main kehidupan riil sehari-hari," ujar Firman saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (8/1/2022).
 
Dia menjelaskan lebih lanjut keberadaan virtual itu tidak menciptakan kondisi sebagaimana di Bumi.

Dia menuturkan ruang virtual, seperti metaverse atau ekstensi Bumi virtual yang identik dengan Bumi saat ini, termasuk Aun-Alun Utara Yogyakarta muncul karena salinan data (jutaan peta muka Bumi) dan sistem algoritma. Sehingga mampu memunculkan keidentikan dengan kondisi real.

"Realitasnya sebatas virtual. Ia adalah space of flows. Ada karena terhubung oleh internet," tutur Firman 

Terlebih metaverse ini sebenarnya terjadi karena adanya jaringan internet. Apabila aliran listrik mati atau internet down, ruang metaverse tersebut tentu tidak ada atau bisa diakses.

"Jadi, ruang itu 'ada tapi maya', bukan 'ada tapi real'. Nah, karena 'ada tapi maya' tentu konsekuensi hukum/regulasinya tidak akan sama dengan 'ada tapi real' kan?" tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan masyarakat Indonesia jangan gampang terjebak jargon populer dan sekadar nampak canggih.

"Metaverse adalah hasil inovasi teknologi informasi. Keberadaannya mampu menciptakan dan mengorganisasi ulang kehidupan paralel  di dunia yang kita huni. Namun hasil penataan ulangnya tergantung pihak pihak yang berinteraksi di dalamnya," jelasnya.

Bisa saja menjadi lebih baik atau lebih buruk, sangat tergantung kesepakatan. Apakah bernilai atau tak bernilai tergantung pihak yang terlibat untuk memberi nilai.

"Dan, yang harus sepenuhnya dipahami, dunia paralel itu ditopang oleh teknologi. Teknologi tak pernah lepas dari kepentingan pengembangnya. Kepentingan itu mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya. Tidak pernah netral," jelasnya. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD