Batik Valiri diproduksi di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Nama "Valiri" diambil dari bahasa Kaili yang berarti “jadi di sini”. Nama ini merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri, tempat masyarakat menggantungkan hidup, menghidupkan nilai tradisi, dan menjaga pengetahuan lokal secara swadaya.
Afrianto, pendiri Batik Valiri, menuturkan bahwa mengangkat Hutan Ranjuri sebagai motif batik merupakan upaya memperkenalkan kekayaan alam dan adat Desa Beka kepada masyarakat luas. Menurutnya, ada banyak narasi yang bisa disampaikan lewat selembar kain.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat. Termasuk pewarna alami yang dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto, Senin (6/7/2026).
Anto menjelaskan, keunikan batik ini terletak pada polanya yang bukan sekadar ornamen visual, melainkan penjaga identitas daerah. Salah satunya adalah motif taiganja yang melambangkan kesuburan, cinta, dan ketulusan hati.
Dalam tradisi Kaili, taiganja adalah benda sakral menyerupai liontin yang digunakan dalam upacara adat dan sering menjadi mahar pernikahan. Melalui kain ini, makna taiganja yang mulai asing di telinga generasi muda dihidupkan kembali dalam konteks modern.