Selain itu, motif pohon rau, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di Sigi juga tergambar apik. Keunikan lain terletak pada prosesnya.
Teknik cap dan canting kontemporer di sini menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Daun rau menghasilkan rona krem, daun mangga memberi sentuhan kuning kehijauan, sementara daun kayu jati dan ketapang menciptakan nuansa cokelat kemerahan hingga hitam.
“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Proses dan kedalaman rasa itulah yang membuat nilainya berbeda,” tambah Anto.
Prinsip kelestarian benar-benar dijaga di sini. Daun rau yang digunakan, misalnya, hanya memanfaatkan daun yang sudah gugur demi menjaga ekosistem hutan adat. Secara administratif, Ranjuri berstatus hutan produktif, namun secara sosial ia dirawat sebagai ruang sakral sumber kehidupan.
Perjalanan Batik Valiri juga diperkuat oleh program inkubasi Gampiri Interaksi yang memberikan inovasi dan perkembangan signifikan khususnya dalam penerapan bahan pewarna.