Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning mengatakan, selama delapan bulan Gampiri Interaksi juga turut memperkuat tata kelola kelembagaan, menyusun standar operasional produksi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka akses pasar dan permodalan.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” kata Nedya.
Kini, Batik Valiri bukan hanya menjadi motor transformasi Kabupaten Sigi menuju wilayah lestari melalui praktik ekonomi hijau yang berakar pada kearifan lokal. Namun juga menjadi pengalaman terkait filosofis dan rasa memahami alam, adat dan keterampilan berbalut ekonomi lokal yang terbungkus dalam selembar kain.
(Nadya Kurnia)