IDXChannel—Traveling bukan sekadar berkunjung ke tempat baru, bersenang-senang, lalu pulang membawa dokumentasi estetis. Lebih dari itu, perjalanan sejati adalah sebuah proses untuk memahami, meresapi, dan menghargai kekayaan alam, budaya, hingga adat istiadat masyarakat setempat.
Indonesia, memiliki bentang alam memukau yang berpadu erat dengan kelestarian budaya. Salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar buruan para pelancong adalah Ekowisata Batik Valiri di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Berbeda dengan objek wisata konvensional, Ekowisata Batik Valiri menawarkan wawasan mendalam dan hikayat tentang Hutan Ranjuri, sebuah hutan adat yang menjadi penyangga ekologis turun-temurun bagi masyarakat lokal.
Harmoni tersebut tertuang indah dalam selembar kain Batik Valiri. Setiap motifnya memuat filosofi, sejarah, dan rekam jejak hubungan magis antara masyarakat adat dengan Hutan Ranjuri selama berabad-abad.
Sebelum melihat proses membatik, wisatawan akan diajak menyusuri Hutan Ranjuri seluas sembilan hektare. Hutan purba inilah yang menjadi sumber inspirasi visual sekaligus penyedia bahan pewarna alami kain tersebut. Menariknya, pengunjung juga bisa merasakan langsung sensasi mencanting batik mereka sendiri.
Batik Valiri diproduksi di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Nama "Valiri" diambil dari bahasa Kaili yang berarti “jadi di sini”. Nama ini merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri, tempat masyarakat menggantungkan hidup, menghidupkan nilai tradisi, dan menjaga pengetahuan lokal secara swadaya.
Afrianto, pendiri Batik Valiri, menuturkan bahwa mengangkat Hutan Ranjuri sebagai motif batik merupakan upaya memperkenalkan kekayaan alam dan adat Desa Beka kepada masyarakat luas. Menurutnya, ada banyak narasi yang bisa disampaikan lewat selembar kain.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat. Termasuk pewarna alami yang dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto, Senin (6/7/2026).
Anto menjelaskan, keunikan batik ini terletak pada polanya yang bukan sekadar ornamen visual, melainkan penjaga identitas daerah. Salah satunya adalah motif taiganja yang melambangkan kesuburan, cinta, dan ketulusan hati.
Dalam tradisi Kaili, taiganja adalah benda sakral menyerupai liontin yang digunakan dalam upacara adat dan sering menjadi mahar pernikahan. Melalui kain ini, makna taiganja yang mulai asing di telinga generasi muda dihidupkan kembali dalam konteks modern.
Selain itu, motif pohon rau, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di Sigi juga tergambar apik. Keunikan lain terletak pada prosesnya.
Teknik cap dan canting kontemporer di sini menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Daun rau menghasilkan rona krem, daun mangga memberi sentuhan kuning kehijauan, sementara daun kayu jati dan ketapang menciptakan nuansa cokelat kemerahan hingga hitam.
“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Proses dan kedalaman rasa itulah yang membuat nilainya berbeda,” tambah Anto.
Prinsip kelestarian benar-benar dijaga di sini. Daun rau yang digunakan, misalnya, hanya memanfaatkan daun yang sudah gugur demi menjaga ekosistem hutan adat. Secara administratif, Ranjuri berstatus hutan produktif, namun secara sosial ia dirawat sebagai ruang sakral sumber kehidupan.
Perjalanan Batik Valiri juga diperkuat oleh program inkubasi Gampiri Interaksi yang memberikan inovasi dan perkembangan signifikan khususnya dalam penerapan bahan pewarna.
Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning mengatakan, selama delapan bulan Gampiri Interaksi juga turut memperkuat tata kelola kelembagaan, menyusun standar operasional produksi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka akses pasar dan permodalan.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” kata Nedya.
Kini, Batik Valiri bukan hanya menjadi motor transformasi Kabupaten Sigi menuju wilayah lestari melalui praktik ekonomi hijau yang berakar pada kearifan lokal. Namun juga menjadi pengalaman terkait filosofis dan rasa memahami alam, adat dan keterampilan berbalut ekonomi lokal yang terbungkus dalam selembar kain.
(Nadya Kurnia)