AALI
9825
ABBA
390
ABDA
0
ABMM
1435
ACES
1240
ACST
234
ACST-R
0
ADES
2970
ADHI
1040
ADMF
7700
ADMG
196
ADRO
1870
AGAR
320
AGII
1485
AGRO
2080
AGRO-R
0
AGRS
179
AHAP
76
AIMS
460
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
890
AKRA
4180
AKSI
414
ALDO
965
ALKA
242
ALMI
246
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.49
0.72%
+3.62
IHSG
6573.41
0.53%
+34.91
LQ45
945.70
0.72%
+6.77
HSI
23444.23
-1.36%
-322.46
N225
27922.34
-0.38%
-107.23
NYSE
16347.87
-0.77%
-127.38
Kurs
HKD/IDR 1,847
USD/IDR 14,395
Emas
827,268 / gram

Memiliki Ciri Khas Motif Cengkeh, Perempuan Ini Pasarkan Produk Fesyen ke Berbagai Negara

INSPIRATOR
Subhan/Kontributor Manado
Senin, 27 September 2021 13:21 WIB
Mariani montu membuat baju dan tas berbahan batik khas Manado dengan kain motif cengkih, pelepah pisang dan anyaman pandan.
Mariani montu membuat  baju dan tas berbahan batik khas Manado dengan kain motif cengkih, pelepah pisang dan anyaman pandan.  (Foto: MNC Media)
Mariani montu membuat baju dan tas berbahan batik khas Manado dengan kain motif cengkih, pelepah pisang dan anyaman pandan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Jatuh bangun dihantam pandemi Covid-19 tidak membuat Mariani Montu patah semangat. Pemilik UMKM Sang Bayu Handycraft ini terus berinovasi dengan sesuatu yang baru. 

Pandemi yang belum juga selesai hingga kini membuat Mariani terus putar otak dengan melakukan berbagai inovasi serta mengikuti berbagai pelatihan dan pengembangan bagi UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

Berbekal itu, dia kemudian membuat produk baru berupa fashion baju dan tas berbahan batik khas Manado dengan kain motif cengkih, pelepah pisang dan anyaman pandan. Tak dinyana, meski tidak punya basic sekolah desainer dan hanya belajar secara otodidak, produk barunya itu menjadi terkenal.

Bahkan produk yang sudah mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual (HAKI) dengan nama merek Zabay Collection itu terpilih mewakili Sulawesi Utara mengikuti pergelaran fashion Sustainable Modest Fashion Show, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021 pada 25-30 Oktober 2021 di Jakarta Convention Center.

"Satu-satunya mewakili Sulawesi Utara di bidang fashion, nantinya acara fashion show, untuk memperkenalkan produk saya," ujar Mariani kepada MNC Portal Indonesia, Senin (27/9/2021).

Selain itu juga, produk zabay collection ini mulai dikenal dan terbuka peluang besar pemasaran hingga di luar negeri, seperti Aljazair, Mesir, Singapura, Korea Selatan, hingga Saudi Arabia. Mariani mengungkapkan bahwa sudah dibuka zoom meeting dengan pembeli-pembeli dari bebeberapa negara tersebut dan nantinya akan dibuka pemasaran hingga kenegara-negara itu yang sudah menjalankan perdagangan syariah.

"Sudah berapa kali diadakan zoom meeting, sudah terhubung juga dengan mereka. Contoh dari Saudi Arabia sudah menyampaikan produk apa yang kurang kalau sudah musim haji, jadi dipersilahkan untuk memasarkan produk, jadi saya cocokan dengan produk saya, inikan ada buat busana muslim, ya mungkin bisa masuk kesitu, karena selama ini yang mensuplai produk kebanyakan dari Cina, jadi dibuka peluang untuk Indonesia, ya termasuk dari kami juga, kalau produk saya busana wanita yang memenuhi kaidah, bisa masuk ke pasar mereka. Jadi dari ISEF ini sudah membuka peluang untuk internasional," tutur Mariani.

Ide kreatif Mariani sendiri mengangkat ikon cengkih dan daunnya disetiap desain-desain baju produksinya. Cengkih sendiri kata dia bisa mengangkat kehidupan ekonomi masyarakat Sulawesi Utara, itulah yang membuatnya terinspirasi dengan mengangkat khusus ikon cengkih sehingga nantinya makin dikenal. 

Dari ikon cengkih itu, dia memadukannya dengan konsep dan model unik, seperti tas yang dipadukan dengan anyaman, pelepah pisang, bahkan karung goni. Harga yang dipasarkan juga tidak terlalu mahal, untuk baju dijual seharga Rp,350 ribu, sedangkan untuk tas Rp200 ribu.

Untuk pembelinya ada yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu juga sudah ada pembeli dari Australia yang membeli tas produksinya.

Perjuangan Mariani patut diapresiasi. Jatuh bangun demi bisa mempertahankan usahanya yang dihantam pandemi Covid-19. Sejak awal pandemi melanda, dia sudah merasakan dampaknya, namun hal itu tidak membuatnya patah arang.

Sebelum adanya pandemi, usaha Mariani tergolong sukses, setiap bulannya dia bisa meraup untung sampai dengan Rp 25 juta perbulan dari penjualan souvenir, kerajinan tangan, kaos, dan kain batik produksinya sendiri.

Namun sejak pandemi melanda, omset dari usaha yang sudah digelutinya sejak 2012 itu mulai menurun drastis sampai dengan 90 persen. Mariani kemudian beralih ke pembuatan masker untuk bisa bertahan demi menghidupi keluarga dan 12 orang karyawannya.

Sejak Mei 2020 dia beralih dengan membuat masker kain. Meski dari 12 orang karyawan tinggal tersisa empat orang saja karena beberapa orang karyawan yang membuat kerajinan, batik, kaos, serta beberapa bidang lain terpaksa harus dirumahkan.

Dia kemudian memproduksi masker kain dengan berbagai macam model yang saat itu banyak dicari orang. Dengan dibantu beberapa karyawannya, dia mulai memproduksi masker dan menjualnya dengan bantuan pedagang asongan.

Lama kelamaan produk maskernya mulai dikenal orang dan banyak peminat, walau belum bisa dikatakan mencukupi. Namun meski perharinya Mariani meraih omset Rp 100 ribu dari hasil penjualan masker, baginya itu sudah cukup membantu biaya hidup sehari-hari bersama karyawannya.

Sambil memproduksi masker, pandemi yang belum juga selesai ini membuat Mariani terus putar otak dengan melakukan berbagai inovasi serta mengikuti berbagai pelatihan dan pengembangan bagi UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

Selain membuat baju wanita dan tas, koleksi buatannya juga di antaranya tas jinjing wanita, tas untuk anak muda, tas laptop, tas punggung dan juga kalung. "Paling tidak bisa menaikkan pendapatan saya untuk bisa mengembangkan usaha kami," pungkasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD