AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Resign dari Perusahaan Asuransi, Pemuda 27 Tahun Ini Sukses Budidaya Lele

INSPIRATOR
Hasan hidayat
Kamis, 04 November 2021 15:50 WIB
Pemuda asal Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, bernama Jimat Ali Santoso (27) berjuang meneruskan usaha sang ayah
Resign dari Perusahaan Asuransi, Pemuda 27 Tahun Ini Sukses Budidaya Lele (FOTO:MNC Media)
Resign dari Perusahaan Asuransi, Pemuda 27 Tahun Ini Sukses Budidaya Lele (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pemuda asal Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, bernama Jimat Ali Santoso (27) berjuang meneruskan usaha sang ayah membudidayakan ikan lele sejak 2019 lalu. 

Kini, usaha tersebut membuahkan hasil yang signifikan. Dari tujuh kolam yang berukuran 25 meter x 10 meter yang ia miliki, dalam satu waktu panen ia menghasilkan lele sebanyak 2 ton. 

"Saya bersyukur budidaya iklan lele ini semakin berkembang, saya yang sebelumnya pegawai salah satu perusahaan asuransi, melanjutkan ayah saya dan perlahan menemukan pola usaha ini, Alhamdulillah dalam setiap panen lele ada sekitar satu ton," ujar pria yang merupakan lulusan sarjana ilmu komunikasi tersebut. 

Jimat tergabung dalam kelompok pembudidaya Balong Sewu. Ia mengaku dalam mengelola kolam dan proses budidaya ikan lele tersebut menggunakan satu jasa produk yang memudahkannya melakukan pengelolaan kolam dan ikan lebih tertata baik dari segi waktu maupun kualitas ikan yang dihasilkan. 

“Saya sudah mengerjakan lahan ini sejak tahun 2019. Saya pertama mengenal eFishery tahun lalu, kemudian saya mulai mencoba menggunakan eFisheryFeeder,” ujar Jimat, Rabu (3/11/2021). 

Dia mengungkapkan, sejak menggunakan teknologi eFisheryFeeder, produktivitas kolamnya cukup meningkat. “Setelah satu tahun ini bekerja dengan teknologi ini yang tadinya hasil panen hanya berkisar 800 kg per kolam sekarang meningkat menjadi 2-2,5 ton per bulan,” jelasnya. 

Jimat mengaku, awal mula membentuk bisnis budidaya ikan lele ini, dia memiliki kesulitan modal dan juga kekurangan pakan, sehingga hasil dari budidaya yang dilakukannya, tidak maksimal.  

Jimat menuturkan, saat ini pertumbuhan usaha budidaya ikan yang dimilikinya cukup berkembang pesat dan perekonomian keluarganya menjadi lebih baik. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa memperluas lahan bisnis budidaya ikan lele saya hingga memiliki 7 kolam,” pungkas Jimat. 

Sementara itu, Kepala Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan, Muhammad Bisri mengatakan, di desanya memang banyak kolam-kolam yang digunakan sebagai budidaya ikan. "Kolam-kolam yang ada di desa kami ini, dulunya sawah yang kurang produktif, jadi oleh warga dibuatlah kolam, sudah cukup lama, warga kami memanfaatkannya untuk berbudidaya ikan," kata Bisri. 

Menurut Bisri, kelompok budidaya ikan lele Balong Sewu ini merupakan salah satu kelompok pembudidaya yang besar di desanya. "Di kompleks Balong Sewu ini ada 60 kolam dengan 20 pembudidaya, salahsatunya Jimat ini," jelasnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Co-Founder dan Chief of Staff eFishery, Chrisna Aditya mengatakan, pihaknya terus mengembangkan inovasinya dalam membantu para pembudidaya ikan dan udang di Indonesia. 

"Misi kami adalah untuk memberi makan dunia melalui akuakultur, menjadikan akuakultur sebagai sumber protein hewani terbesar. Mimpi besar untuk menjaga kualitas pangan dan mengurangi kelaparan tentunya hanya dapat kami realisasikan jika kami tumbuh bersama dengan para pembudidaya," ungkapnya. 

Hingga kini, menurut Chrisna, produk dan layanannya telah menjangkau 70.000 kolam di seluruh Indonesia dan meningkatkan pendapatan pembudidaya hingga 45 persen. 

Chrisna mengungkapkan, “Kami ingin menciptakan ekosistem yang inklusif, sehingga siapa saja, termasuk pembudidaya milenial seperti Pak Jimat, dapat sukses berbudidaya dengan dukungan yang diberikan oleh kami," katanya. 

Chrisna juga menjelaskan, bahwa prospek industri akuakultur semakin berkembang pesat ketimbang sektor makanan berbasis hewani lainnya.  

Dari data yang dihimpunnya, laju tangkapan ikan laut cenderung stagnan, dimana pertumbuhannya hanya tiga persen. Di sisi lain, akuakultur tumbuh 21 persen selama enam tahun terakhir sehingga prospek industri ini semakin cerah karena potensinya sangat besar termasuk Indonesia. “Saat ini sudah lebih dari 20.000 pembudidaya yang menjadi bagian dari kami dalam 8 tahun berdiri,” pungkasnya. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD