Sentimen tersebut sempat mengangkat harga SKRN dan CBRE secara bersamaan. Bahkan, CBRE sempat saham multibagger dan menjadi incaran para investor ritel alias hot stock. Lonjakan minat ini juga tergambar dari jumlah pemegang sahamnya yang melejit tajam, dari hanya 7.431 investor pada 31 Agustus 2025 menjadi 67.982 investor per 31 Oktober 2025.
Namun, setelah euforia awal mereda dan pasar mulai mencerna rencana rights issue serta kondisi fundamental masing-masing emiten, katalis tersebut kehilangan daya dorong.
Akibatnya, baik SKRN maupun CBRE kembali terkoreksi cukup dalam sepanjang November, masuk dalam deretan saham dengan penurunan terbesar. CBRE merosot 23,27 persen selama sebulan terakhir, terakhir diperdagangkan di level Rp1.055 per unit per Jumat (28/11/2025).
Di urutan berikutnya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) turun 28 persen. Saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) menyusul dengan koreksi 25,48 persen.
Berikut daftar lengkap 10 saham dengan penurunan terbesar selama November:
- Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN): -37,62 persen
- Waskita Beton Precast Tbk (WSBP): -28,00 persen
- Remala Abadi Tbk (DATA): -25,48 persen
- Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE): -23,27 persen
- Integra Indocabinet Tbk (WOOD): -20,35 persen
- Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL): -19,92 persen
- Malindo Feedmill Tbk (MAIN): -19,23 persen
- Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC): -19,00 persen
- MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN): -16,80 persen
- TBS Energi Utama Tbk (TOBA): -16,50 persen
Koreksi ini menunjukkan, saham-saham yang sempat mencuri perhatian dalam beberapa waktu lalu kini justru berada di jalur pelemahan, terutama seiring meredanya euforia dan aksi spekulasi pelaku pasar. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.