Namun, beberapa sektor mulai menunjukkan perlambatan, seperti consumer staples, properti, dan kesehatan.
Hadi menjelaskan, perlambatan pada consumer staples terjadi seiring meredanya dampak bantuan tunai pada akhir 2025.
Sementara itu, sektor properti tertekan kekhawatiran makro yang menahan pembelian aset bernilai besar.
Perlu dicatat, dalam analisis tersebut CGSI mengecualikan pos-pos non-berulang, seperti keuntungan satu kali pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di kuartal IV-2025, serta beban non-berulang PT United Tractors Tbk (UNTR) pada kuartal I-2026.
“Jika tidak mengecualikan item non-berulang, pertumbuhan laba kuartal I-2026 sebenarnya terlihat melambat dibanding kuartal IV-2025,” kata dia.