Dari sisi pasar, CGSI melihat tekanan terhadap IHSG masih berasal dari harga minyak yang tinggi, pelemahan musiman rupiah pada kuartal II, serta potensi arus keluar dana pasif (passive outflows) pada akhir Mei dan pekan ketiga Juni.
Meski begitu, Hadi menilai sebagian besar sentimen negatif tersebut sudah tercermin dalam penurunan IHSG sekitar 20 persen sejak awal tahun.
“Puncak pesimisme investor kemungkinan terjadi pada Mei atau Juni, yang berpotensi menjadi titik masuk yang menarik,” tulis Hadi.
Menurut dia, valuasi banyak saham saat ini juga telah mendekati level terendah dalam satu dekade, membuka peluang akumulasi secara selektif.
CGSI mempertahankan sejumlah saham unggulan, antara lain PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Triputra Agro Persada (TAPG).